BORNEONEWS, Palangka Raya - Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah menggelar kegiatan Kemah Penulisan Cerpen Berbahasa Daerah Tunas Bahasa Ibu Tahun 2025 pada 10–13 November 2025 di Palangka Raya.
Kegiatan ini diikuti para tunas bahasa ibu jenjang SMP yang sebelumnya berpartisipasi dalam lomba menulis cerpen pada Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah 2025, bersama para guru pendamping masing-masing.
Kepala Balai Bahasa Kalteng, Sukardi Gau, mengatakan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang pembinaan dan penguatan penulisan sastra berbahasa daerah bagi generasi muda.
“Melalui kemah penulisan ini, kami ingin membentuk tunas-tunas muda yang tidak hanya terampil menulis, tetapi juga bangga dan mampu menggunakan bahasa daerahnya dalam karya sastra,” kata Sukardi pada Sabtu, 15 November 2025.
Menurut Sukardi, pelestarian bahasa daerah tidak bisa dilakukan hanya melalui ajang lomba, tetapi butuh proses pendampingan berkelanjutan. Karena itu, kemah penulisan digagas sebagai wadah praktik intensif agar peserta dapat mengembangkan kemampuan teknis penulisan cerpen sekaligus memperkaya pemahaman budaya yang menjadi konteks utama bahasa daerah.
“Pembinaan berjenjang seperti ini penting untuk memastikan bahasa daerah terus hidup di tangan generasi muda,” tambahnya.
Selama empat hari kegiatan, peserta mendapatkan materi mengenai teknik menulis cerpen, penguatan karakter tokoh, alur cerita, serta strategi penggunaan bahasa daerah yang baik dan komunikatif dalam karya sastra. Para guru pendamping juga diikutsertakan agar pendampingan dapat berlanjut di sekolah masing-masing setelah kegiatan berakhir.
Sukardi menegaskan bahwa seluruh cerpen hasil kemah penulisan ini akan melalui proses kurasi sebelum disusun menjadi Antologi Cerpen Berbahasa Daerah Tunas Bahasa Ibu Tahun 2025. Antologi ini diharapkan menjadi dokumentasi penting sekaligus bukti kreativitas generasi muda Kalimantan Tengah dalam menjaga kekayaan bahasa daerah.
“Harapan kami, para peserta pulang dengan keterampilan baru dan motivasi lebih kuat untuk terus berkarya. Karya-karya mereka nantinya bukan hanya dibaca, tetapi menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya daerah kita,” tutup Sukardi. (TESTI PRISCILLA/H)









