BORNEONEWS, Palangka Raya - Harga berbagai komoditas kebutuhan masyarakat di Kalimantan Tengah kembali menunjukkan tren naik pada November 2025. Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi tahun ke tahun atau y-on-y sebesar 2,56 persen, meningkat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Kalteng, M Taufiqurrahman menjelaskan, inflasi tersebut menandai kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,13 pada November 2024 menjadi 108,85 pada November 2025.
“Secara bulanan juga masih terjadi inflasi sebesar 0,19 persen. Sementara secara tahun kalender, sampai November ini inflasi tercatat 2,07 persen,” ujarnya pada Selasa, 2 Desember 2025.
Menurut Taufiqurrahman, inflasi tetap terkendali dan masih berada dalam kisaran target nasional. Namun, ia menegaskan pentingnya kewaspadaan karena beberapa kelompok pengeluaran mengalami kenaikan yang signifikan.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok penyedia makanan dan minuman/restoran sama-sama naik 3,04 persen. Sedangkan perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan paling tinggi yaitu 11,76 persen,” jelasnya.
Kelompok pengeluaran yang berkontribusi paling besar terhadap inflasi y-on-y yakni makanan, minuman dan tembakau dengan andil 1,18 persen, diikuti perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,68 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran dengan 0,33 persen. Di sisi lain, hanya dua kelompok yang menyumbang deflasi tipis: perlengkapan rumah tangga serta informasi dan komunikasi.
Beberapa komoditas yang menjadi pendorong utama inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, rokok (SKM dan SKT), beras, telur ayam ras, minyak goreng, serta sejumlah sayuran seperti kangkung, bayam, dan bawang merah. Ikan gabus, ikan bakar, serta makanan siap saji seperti nasi lauk dan mie instan juga mencatat andil kenaikan harga. Sedangkan daging ayam ras, bawang putih, tomat, dan sabun deterjen justru menyumbang penurunan harga secara tahunan.
"Sementara untuk inflasi bulanan (m-to-m), tren serupa terlihat pada komoditas ikan gabus, emas perhiasan, dan angkutan udara sebagai pendorong utama. Adapun cabai rawit, ikan peda, ikan patin, serta buah naga menjadi komoditas yang memberikan tekanan deflasi," tuturnya.
Taufiqurrahman menambahkan bahwa dinamika harga pangan masih menjadi faktor utama yang memengaruhi inflasi di Kalimantan Tengah.
“Upaya menjaga stabilitas pasokan, distribusi, dan penguatan sektor pangan lokal perlu terus ditingkatkan. Sinergi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan sangat penting agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” ucapnya. (TESTI PRISCILLA/H)









