PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Warga Kalimantan Tengah kembali merasakan kenaikan harga pada sejumlah kebutuhan pokok. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, inflasi tahun ke tahun atau y-on-y pada November 2025 mencapai 2,56 persen.

Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Kalteng M. Taufiqurrahman menyebut kenaikan harga yang terjadi masih dalam kategori terjaga, namun tetap perlu diwaspadai.

“IHK meningkat dari 106,13 menjadi 108,85. Masyarakat mungkin paling merasakan kenaikan pada komoditas pangan dan kebutuhan sehari-hari,” jelasnya pada Selasa, 2 Desember 2025.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 1,18 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang cukup tinggi dengan andil 0,68 persen.

“Kelompok restoran juga ikut dorong inflasi, seiring naiknya biaya makan di luar rumah,” terangnya.

Komoditas yang memicu kenaikan harga di antaranya emas perhiasan, rokok jenis SKM dan SKT, beras, telur ayam, minyak goreng, hingga sayuran seperti kangkung, bayam, dan bawang merah. Selain itu, menu siap saji seperti nasi lauk dan mie instan juga mengalami kenaikan permintaan sekaligus harga.

Meski begitu, ada pula beberapa komoditas yang justru turun dan menahan inflasi. Antara lain daging ayam ras, bawang putih, tomat, ikan patin, serta sabun deterjen bubuk.

“Penurunan ini tidak terlalu besar, namun membantu stabilitas harga,” tambah Taufiqurrahman.

Dilihat secara bulanan, inflasi m-to-m tercatat 0,19 persen. Ikan gabus, angkutan udara, dan komoditas sayuran masih menjadi pemicu utama kenaikan harga di November.

“Koordinasi dalam pengendalian inflasi, khususnya terkait pasokan dan distribusi pangan, harus terus diperkuat,” tegasnya. (TESTI PRISCILLA/H)