PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya  – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalteng, Yuliansah Andrias menyampaikan bahwa inflasi di Kalteng naik 1,04 persen (month-to-month/mtm) pada Desember 2025. Kenaikan ini dipengaruhi dinamika pasar pada akhir tahun 2025. Sebelumnya pada periode November 2025, inflasi hanya 0,19 persen (mtm). 

Menurut Yuliansah, inflasi tersebut didorong kelompok makanan, minuman dan tembakau. Peningkatan konsumsi masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru menjadi salah satu faktor pendorong utama.

"Ditambah dengan terbatasnya pasokan saat momentum Haul Guru Sekumpul," katanya, Selasa, 13 Januari 2026.

Kenaikan harga terjadi pada sejumlah komoditas utama seperti cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, beras dan ikan gabus. 

Dia melanjutkan, naiknya harga pada komodintas tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor permintaan, tetapi juga kondisi cuaca yang tidak mendukung serta penurunan volume pasokan dari daerah produsen.

Meski menunjukkan kenaikan, Yuliansah menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap perkembangan inflasi di Kalteng. Pihaknya menjelaskan bahwa berbagai upaya telah dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat di seluruh provinsi.

“Sinergi pemerintah daerah dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan di Kalimantan Tengah,” ujarnya.

 Kolaborasi ini mencakup berbagai langkah mulai dari pemantauan pasar secara berkala, pengaturan distribusi komoditi, hingga program penstabilan harga seperti operasi pasar dan gerakan pangan murah.

Upaya sinergis tersebut diharapkan dapat meredam tekanan inflasi di bulan-bulan mendatang dan memastikan bahwa kebutuhan pokok masyarakat tetap terpenuhi dengan harga yang wajar. 

Pihaknya akan terus memantau perkembangan pasar dan mengambil langkah antisipatif jika terjadi potensi fluktuasi harga yang lebih besar. (MARINI/y)