PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau Gapki Cabang Kalimantan Tengah menegaskan komitmennya dalam mendukung upaya pelestarian orangutan melalui partisipasi aktif dalam Bimbingan Teknis Penyusunan Data Distribusi Spasial Orangutan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan keanekaragaman hayati di Bumi Tambun Bungai.

Sambutan resmi Gapki Cabang Kalteng disampaikan oleh Suto Suwahyo yang menekankan bahwa keberlanjutan usaha di sektor kelapa sawit tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab terhadap lingkungan. Ia menyebut orangutan sebagai satwa dilindungi sekaligus simbol penting keseimbangan ekosistem hutan yang harus dijaga bersama.

“Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor kelapa sawit, kami menyadari bahwa keberlanjutan usaha tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati. Orangutan merupakan satwa dilindungi dan simbol penting keseimbangan ekosistem hutan, sehingga upaya pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama,” ujar Suto Suwahyo pada Selasa, 27 Januari 2026.

Hal ini disampaikan Suto dalam kegiatan pemutakhiran data populasi Orangutan di luar Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) sebagai tindak lanjut Regional Meeting Konservasi Orangutan Kalimantan Tengah yang dilaksanakan pada 23–24 Juni 2025 lalu. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 27 Januari 2026, di Aquarius Boutique Hotel, Palangka Raya oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Provinsi Kalimantan Tengah.

Suto menambahkan, melalui kegiatan bimbingan teknis ini, perusahaan-perusahaan anggota Gapki Kalteng berkomitmen untuk terus mendukung program konservasi orangutan. Dukungan tersebut diwujudkan melalui perlindungan habitat, kerja sama dengan lembaga konservasi, penerapan praktik perkebunan berkelanjutan, serta peningkatan kesadaran seluruh karyawan dan masyarakat sekitar.

“Melalui kegiatan ini, perusahaan berkomitmen untuk terus mendukung program konservasi, baik melalui perlindungan habitat, kerja sama dengan lembaga konservasi, penerapan praktik perkebunan berkelanjutan, maupun peningkatan kesadaran seluruh karyawan dan masyarakat sekitar akan pentingnya hidup berdampingan secara harmonis dengan satwa liar,” katanya lagi.

Menurut Suto, tantangan pelestarian orangutan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi yang kuat antara dunia usaha, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, serta masyarakat lokal agar upaya konservasi berjalan efektif dan berkelanjutan.

“Kami percaya bahwa kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat lokal adalah kunci keberhasilan dalam menjaga kelestarian orangutan dan lingkungan hidup secara berkelanjutan,” tegasnya.

Bimbingan teknis penyusunan data distribusi spasial orangutan ini diharapkan dapat menghasilkan basis data yang lebih akurat dan terintegrasi. Data tersebut akan menjadi landasan penting dalam perencanaan pengelolaan habitat, mitigasi konflik manusia-satwa, serta penguatan kebijakan konservasi orangutan di Kalimantan Tengah ke depan. (TESTI PRISCILLA/H)