BORNEONEWS, Sampit – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur (Kotim) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul kondisi cuaca yang tidak menentu. Perubahan iklim yang cepat memicu beragam potensi bencana, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, hingga angin kencang disertai petir.
"Kalau dilihat dari iklim dan informasi dari BMKG memang situasi cuaca ini memang berubah-ubah. Kemarin sempat hujan, tapi ada juga panas selama dua hari. Bahkan sempat terjadi kebakaran di kilometer 19 sampai 20 dengan luas sekitar 0,3 hektare dan sudah berhasil kita padamkan," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Kamis, 12 Februari 2026.
Di sisi lain, kata dia, Kotim juga dihadapkan pada potensi banjir dan banjir rob akibat pasang air. Kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.
"Situasi ini mengharuskan kita tetap waspada. Kami juga mengimbau masyarakat agar berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan karena angin cukup kencang, disertai petir yang bisa membahayakan keselamatan," tambahnya.
BPBD Kotim berharap berbagai kejadian bencana yang pernah terjadi sebelumnya dapat menjadi pelajaran agar seluruh elemen lebih siap dan sigap menghadapi potensi bencana ke depan.
Terkait status siaga bencana yang tersisa beberapa hari, Multazam menyebutkan masih akan dilakukan evaluasi. Ada kemungkinan status tersebut dihentikan sementara sambil melihat perkembangan cuaca beberapa bulan ke depan.
"Mungkin kita hentikan dulu, tapi tetap melihat proyeksi bulan Juli nanti. Berdasarkan prakiraan iklim, sejak Juli biasanya mulai masuk musim kemarau," ujarnya.
Ia mengingatkan, musim kemarau dengan suhu tinggi berpotensi memicu karhutla, terutama jika masih ditemukan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
"Kemarau dengan panas tinggi tentu fatal dampaknya, apalagi jika ada oknum yang membuka lahan dengan cara membakar. Ini sudah sering kami sampaikan, bukalah lahan dengan cara bijaksana dan jangan dengan membakar," tuturnya.
Multazam mengungkapkan, wilayah Kecamatan Antang Kalang masih menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi di Kotim. Selama Januari tercatat hampir 34 titik hotspot dari total 113 hotspot yang terpantau.
"Rekor hotspot masih dipegang Antang Kalang. Karena itu kami terus berkoordinasi dengan aparat desa dan camat untuk mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar," katanya.
Menurutnya, tingginya hotspot di wilayah utara Kotim tersebut dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan. Cara membakar dinilai sebagian masyarakat lebih mudah dan cepat, meski berisiko besar.
"Kami berharap masyarakat bisa menggunakan cara mekanis. Alat-alat sebenarnya sudah tersedia dan di beberapa daerah bisa disewa. Itu jauh lebih bijak," ujarnya.
Dalam penanganan karhutla di wilayah utara yang aksesnya cukup sulit, BPBD Kotim juga meminta peran aktif para pemilik konsesi.
"Kami berharap pemilik konsesi ikut membantu, karena mereka punya kewajiban membantu pemadaman di radius 2 sampai 5 kilometer di luar batas konsesinya. Selain itu, mereka juga harus aktif melakukan sosialisasi dan penyadartahuan kepada masyarakat," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)









