PRESIDEN Joko Widodo mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana. Yaitu, seperti apa contoh tindakan kesetiakawanan sosial yang riil di tengah masyarakat. Wargapun berebut menjawab.
Dan sudah pasti, contohnya banyak . Ada yang menjawab, setia kawan itu saling menolong, bergotong royong, bahkan pemimpin harus peka terhadap nasib masyarakat, serta ingat untuk apa menjadi pemimpin.
Mendengar jawaban itu, Presiden gembira. Iapun menambahkan, kesetiakawanan sosial memiliki cakupan yang luas. Pemimpin tidak boleh menyalahgunakan kewenangan saat memimpin rakyat, Jangan pula karena berkuasa lalu tidak memerdulikan kepentingan rakyat banyak.
“Ini yang patut dicamkan para pemimpin, mulai kepala desa sampai gubernur. Dan jangan pungli ya," ucap presiden menggarisbawahi pernyataan sang pemuda yang menjawab pertanyaan presiden itu.
Dari penjelasan yang ringan ini, sesungguhnya kita memetik makna yang berat. Kesetiakawanan sosial, adalah sebuah kepedulian terhadap sesama, terhadap rakyat. Karena itu, hal ini tidak bisa dimaknai sekedar memberi bantuan ini dan itu.
Kesetiakawanan, lebih merupakan nuansa kejiwaan. Jiwa setia terhadap kawan atau sesama, akhir-akhir ini tampaknya sudah mulai redup, bahkan ada yang sudah mati. Orang tidak lagi peduli pada nasib sesamanya. Semakin banyak yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Malah, banyak pemimpin yang lupa pada kewajibannya. Yaitu melayani warga.
Presiden, dalam bahasa yang sederhanya menekankan dengan kata-kata: “Jangan pungli ya!” Inilah yang diminta untuk kita camkan bersama. Karena pungli, atau bahasa menterengnya korupsi, adalah musuh kesetiakawanan sosial.
Korupsi adalah kejahatan sosial paling besar. Korupsi adalah perilaku asosial yang paling kejam dan tak berperikemanusiaan. Karena itu, korupsi adalah musuh bersama.
Jiwa asosial, jiwa tak setia kawan, memang harus dikikis. Baik jiwa asosial yang melekat pada perorangan, pada kelompok maupun pada organisasi, perusahaan. Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran sering menyebut, Kalimantan Tengah adalah daerah yang kaya sumber daya alam. Tetapi daerahnya tetap tertinggal dan rakyatnya miskin.
Itu merupakan bukti, jiwa sosial perusahaan belum tumbuh secara merata. Jiwa setia kawan perusahaan harus diketuk dan dihidupkan.








