BORNEONEWS, Batam – Badan Pengusahaan atau BP Batam terus memperkuat realisasi investasi di sektor digital melalui pengembangan kawasan Nongsa Digital Park atau NDP.
Kawasan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat kegiatan teknologi, pusat data, dan ekonomi digital di Kota Batam, Kepulauan Riau.
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengatakan kehadiran pusat data dan infrastruktur digital di Batam bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bagian dari strategi jangka panjang pengembangan ekonomi daerah.
“Nongsa Digital Park menjadi indikator awal yang positif karena menunjukkan adanya minat investasi, kemitraan lintas negara, serta tumbuhnya aktivitas di bidang data center, pengembangan teknologi, dan ekonomi digital,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima di Batam, Jumat, 12 Juni 2026.
Realisasi investasi sektor digital di Batam tercatat mencapai Rp8,557 triliun pada 2025. Sementara itu, penyerapan tenaga kerja di Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK Nongsa pada triwulan IV 2025 mencapai 836 orang.
Selain berdampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja, pengembangan kawasan digital juga dinilai memberi efek berganda terhadap rantai pasok dan berbagai layanan pendukung.
BP Batam juga memperkuat pengembangan sumber daya manusia di sektor digital. Melalui Nongsa Digital Park, sejumlah program pendidikan dan pelatihan telah hadir, seperti Apple Academy, IBM Hybrid Cloud Academy, Royal Melbourne Institute of Technology atau RMIT University, serta Epic Games.
Program tersebut diharapkan mampu mencetak talenta digital lokal yang sesuai dengan kebutuhan industri teknologi dan ekonomi digital.
Selain Singapura yang masih menjadi investor dominan, sejumlah negara lain juga tercatat aktif menanamkan investasi di sektor digital Batam. Di antaranya Hong Kong, Amerika Serikat, dan Malaysia.
Amsakar menyebut daya tarik Batam tidak hanya terletak pada efisiensi biaya, tetapi juga pada posisi strategis yang dekat dengan Singapura, konektivitas cepat, serta peluang membangun model operasi lintas batas untuk mendukung kebutuhan regional.
“Yang lebih kuat adalah kombinasi faktor strategis, yakni kedekatan geografis dengan Singapura, konektivitas yang cepat, dan peluang membangun model operasi lintas batas untuk mendukung kebutuhan regional,” ujarnya.
Di tengah kebutuhan pasokan listrik yang besar dan andal untuk mendukung pusat data, BP Batam turut mendorong pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS serta solusi energi hijau.
Langkah ini menjadi bagian penting dari ekosistem investasi Batam, terutama untuk mendukung kebutuhan energi bersih dan berkelanjutan bagi operasional pusat data.
Pada 2025, realisasi investasi sektor listrik, gas, dan air di Batam mencapai Rp5,80 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur energi menjadi salah satu perhatian utama investor yang masuk ke Batam.
“BP Batam berkomitmen memastikan pertumbuhan digital tidak datang dengan mengorbankan keberlanjutan lingkungan,” kata Amsakar.
Menurutnya, integrasi energi terbarukan, termasuk PLTS, menjadi bagian dari peta jalan pengembangan kawasan. Hal ini dilakukan agar Batam mampu memenuhi standar Environmental, Social, and Governance atau ESG yang menjadi salah satu syarat penting bagi investasi global.
“Transformasi digital kita nyata. Kami berkomitmen menjadikan Batam sebagai lokasi investasi yang kompetitif, terukur, dan investor-friendly, khususnya untuk sektor digital yang berkelanjutan,” ujarnya.
Terkait kemunculan Johor-Singapore Special Economic Zone atau JS-SEZ yang juga membidik pasar pusat data dan ekonomi digital, Amsakar menilai kondisi tersebut tidak harus dipandang sebagai persaingan semata.
Menurutnya, Batam justru memiliki peluang untuk membangun ekosistem yang saling melengkapi dengan kawasan lain di regional.
“Kami melihat ini bukan sekadar kompetisi, melainkan peluang membangun ekosistem komplementer. Singapura kuat sebagai pusat HQ dan layanan global, Johor menawarkan perluasan kapasitas, dan Batam memiliki karakteristik unik seperti FTZ/SEZ, ekosistem industri, maritim-logistik, serta kedekatan operasional dengan Singapura,” jelasnya.
Dalam visi BP Batam, kawasan ini dapat menjadi bagian dari koridor digital dan industri regional yang terintegrasi. Aktivitas pusat data dan ekonomi digital dapat tersebar dalam model jaringan sesuai kebutuhan efisiensi dan operasional bisnis.
Selain pengembangan kawasan digital, BP Batam juga telah meluncurkan platform MANTAB pada 8 Desember 2025. Platform ini merupakan sistem job matching berbasis digital yang dirancang untuk menghubungkan ketersediaan sumber daya manusia dengan kebutuhan industri secara langsung dan terintegrasi.
ANTARA









