BORNEONEWS, Pulang Pisau – Dinas Kesehatan Kabupaten Pulang Pisau mencatat capaian penemuan kasus Tuberkulosis (TB) hingga Juni 2026 masih berada di bawah target yang ditetapkan. Dari target 898 suspek TB pada semester pertama, baru 814 orang yang berhasil ditemukan dan diperiksa atau sekitar 90,6 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pulang Pisau, dr Ellyana, mengatakan jumlah kasus TB positif yang ditemukan hingga pertengahan tahun mencapai 43 kasus. Jika ditambah 13 kasus yang ditemukan oleh RSUD Pulang Pisau, maka total kasus TB yang terdeteksi mencapai 56 kasus.
“Dengan TCM itu kan salah satu cara penegakan diagnosis TB. Selama ini puskesmas kita, terutama wilayah Jabiren ke atas, cukup kesulitan mengirim sampel untuk pemeriksaan TCM ke RSUD Pulang Pisau,” kata dr Ellyana. Selasa, 16 Juni 2026.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan, Kabupaten Pulang Pisau yang memiliki jumlah penduduk 140.776 jiwa menargetkan penemuan 1.794 suspek TB dan 332 kasus TB positif sepanjang tahun 2026. Namun hingga Juni, capaian penemuan kasus positif masih jauh dari target semester pertama sebanyak 105 kasus.
Untuk mempercepat penemuan kasus, Dinas Kesehatan berencana menjalin kerja sama dengan Puskesmas Pahandut di Kota Palangka Raya dalam layanan pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM).
“Rencananya minggu ini kami membuka kerja sama dengan Puskesmas Pahandut. Supaya pasien kita yang berobat ke Palangka Raya tetap masuk dalam data Kabupaten Pulang Pisau dan proses penemuan pasien TB bisa lebih cepat,” ujar dr El sapaan akrabnya.
Data Dinas Kesehatan juga menunjukkan sebanyak 658 suspek TB telah memenuhi standar pemeriksaan, sementara total suspek yang berhasil dijaring mencapai 849 orang hingga Juni 2026. Sejumlah wilayah mencatat capaian cukup baik dalam penemuan suspek dan kasus positif, namun masih ada beberapa wilayah yang realisasinya rendah sehingga memerlukan penguatan skrining dan pelacakan kontak erat.
Dr Ellyana menegaskan masyarakat tidak perlu malu atau menganggap TB sebagai aib karena penyakit tersebut dapat disembuhkan dengan pengobatan yang teratur.
“TB itu ada obatnya dan bisa sembuh total. Pengobatannya memang jangka panjang, tetapi yang penting pasien patuh minum obat dan mendapat pendampingan dari keluarga,” katanya.
Ia menjelaskan seluruh obat TB tersedia secara gratis melalui program pemerintah, baik di rumah sakit maupun puskesmas. Pengobatan standar berlangsung selama enam bulan dan harus dijalani hingga tuntas untuk mencegah resistensi obat.
“Kalau putus obat, pengobatannya bisa jauh lebih lama dan lebih sulit. Karena itu peran keluarga sangat penting untuk memastikan pasien tetap rutin minum obat,” tambahnya.
Selain itu, Dinkes juga mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan rumah dengan membuka jendela agar sirkulasi udara dan paparan sinar matahari dapat membantu mengurangi risiko penularan kuman TB.
Menurut dr Ellyana, TB tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyebar ke organ lain seperti tulang, kelenjar, hingga organ dalam apabila tidak segera ditangani.
“Siapa pun bisa terkena TB. Ini bukan karena tingkat ekonomi atau kebersihan seseorang, tetapi karena penularannya memang cukup cepat. Yang terpenting adalah deteksi dini, pengobatan sampai tuntas, dan pemeriksaan seluruh anggota keluarga yang kontak erat dengan pasien,” pungkasnya.( RETHA/y)









