BORNEONEWS, Palangka Raya - Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi tahunan di Kalimantan Tengah pada Juni 2026. Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat kelompok ini mengalami inflasi year-on-year atau y-on-y sebesar 6,11 persen dan memberikan andil sebesar 2,37 persen terhadap inflasi daerah.

Pelaksana Tugas Kepala BPS Kalimantan Tengah, Maria Wahyu Utami, mengatakan indeks kelompok makanan, minuman, dan tembakau meningkat dari 111,41 pada Juni 2025 menjadi 114,85 pada Juni 2026.

"Subkelompok makanan mengalami inflasi tahunan tertinggi sebesar 6,45 persen, disusul subkelompok minuman tidak beralkohol sebesar 5,10 persen. Sementara subkelompok rokok dan tembakau mencatat inflasi terendah, yakni 4,36 persen," ujar Maria pada Kamis, 2 Juli 2026.

Ia menjelaskan, komoditas yang paling besar mendorong inflasi tahunan adalah beras dengan andil 0,67 persen. Selain itu, kenaikan harga ikan nila memberikan andil 0,24 persen, minyak goreng 0,21 persen, ikan patin 0,16 persen, serta sigaret kretek mesin 0,13 persen.

Sejumlah komoditas lain yang turut menyumbang inflasi antara lain cabai rawit, kopi bubuk, ikan gabus, sigaret kretek tangan, telur ayam ras, ikan saluang, air kemasan, ikan baung, gula pasir, ikan lais, ikan kapar, kue basah, ikan peda, ikan papuyu, dan ikan asin sepat.

Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi tahunan. BPS mencatat daging ayam ras menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,11 persen. Selain itu, harga terong, rampela hati ayam, cumi-cumi, kunyit, kelapa, buah naga, dan daging babi juga mengalami penurunan sehingga turut menekan inflasi.

Maria menambahkan, berbeda dengan kondisi tahunan, secara bulanan (month-to-month/m-to-m) kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru memberikan andil deflasi sebesar 0,08 persen pada Juni 2026.

"Komoditas yang paling besar menahan inflasi bulanan adalah daging ayam ras dengan andil deflasi 0,17 persen, disusul ikan gabus 0,07 persen, ketimun, ikan nila, dan kacang panjang masing-masing 0,02 persen," jelasnya.

Meski demikian, beberapa komoditas masih mengalami kenaikan harga pada Juni 2026. Bawang merah menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan andil 0,07 persen, diikuti minyak goreng 0,06 persen, ikan patin 0,03 persen, bawang putih 0,02 persen, serta wortel, beras, cabai merah, air kemasan, ikan tongkol, ikan bawal, ikan kapar, dan kue basah yang masing-masing memberikan andil 0,01 persen.

Maria mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan dinamika harga pangan di Kalimantan Tengah masih dipengaruhi fluktuasi berbagai komoditas, baik hasil pertanian maupun perikanan, yang berdampak langsung terhadap tingkat inflasi daerah. (TESTI PRISCILLA/j)