SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat sebanyak 372 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah tersebut sepanjang Januari hingga 14 Juli 2026. Dalam periode itu, terjadi 72 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan luas lahan terbakar mencapai 151,7173 hektare.

"Total keseluruhan Kabupaten Kotim terdapat 372 hotspot, 72 kejadian karhutla, 64 penanganan, dengan total luas lahan terbakar mencapai 151,7173 hektare," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Selasa, 14 Juli 2026.

Berdasarkan data BPBD, wilayah tengah menjadi kawasan dengan luasan kebakaran terbesar, yakni 77,9303 hektare atau sekitar 51,37 persen dari total lahan yang terbakar di Kotim.

Di wilayah tengah tersebut meliputi Kecamatan Parenggean dengan luas kebakaran terbesar mencapai 41,5 hektare, disusul Baamang 24,0203 hektare, Kota Besi 3,91 hektare, Seranau 3 hektare, Telawang 2,5 hektare, Cempaga Hulu 2 hektare, dan Cempaga 1 hektare.

Sementara itu, wilayah selatan menyumbang 72,337 hektare atau 47,68 persen dari total luas lahan yang terbakar.

Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak di wilayah selatan yakni 32 kejadian, dengan luas lahan terbakar mencapai 33,979 hektare. Selanjutnya Kecamatan Pulau Hanaut luas kebakaran 20,75 hektare, Teluk Sampit 8,3 hektare, Mentaya Hilir Selatan 5 hektare, dan Mentaya Hilir Utara 4,308 hektare.

Adapun wilayah utara menjadi daerah dengan luasan kebakaran paling rendah, yakni 1,45 hektare atau sekitar 0,96 persen dari total luas lahan terbakar. Kebakaran hanya tercatat terjadi di Kecamatan Mentaya Hulu, sedangkan Antang Kalang, Telaga Antang, Bukit Santuai, dan Tualan Hulu hanya terdeteksi hotspot tanpa adanya kejadian kebakaran yang ditangani.

Meski jumlah hotspot cukup tinggi di sejumlah kecamatan, tidak seluruh titik panas berkembang menjadi kebakaran. Misalnya di Kecamatan Kota Besi terdeteksi 90 hotspot, Antang Kalang 70 hotspot, Mentaya Hulu 31 hotspot, dan Telaga Antang 25 hotspot.

BPBD Kotim mengimbau seluruh masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan yang semakin meluas, terutama pada musim kemarau. (DEWI PATMALASARI/y)