KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Musim kemarau tidak hanya berdampak pada meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga memunculkan ancaman lain yang tidak selalu terlihat, yakni masuknya pengaruh air laut ke aliran sungai. Fenomena yang dikenal sebagai intrusi air asin ini dapat berdampak langsung terhadap kualitas air baku dan mengganggu proses produksi air bersih.

Di Kabupaten Kapuas, kondisi tersebut sempat memengaruhi pelayanan air bersih kepada masyarakat. Perubahan kualitas air baku membuat PDAM Kapuas harus melakukan penyesuaian operasional karena salah satu instalasi pengolahan air (IPA) tidak dapat difungsikan secara maksimal.

Direktur PDAM Kapuas, Abisua Setia Nugroho, mengatakan gangguan pasokan air terjadi akibat berkurangnya kapasitas pengolahan setelah IPA 1 dengan kapasitas 125 liter per detik dihentikan sementara karena kondisi air baku yang terindikasi mengalami peningkatan kadar garam.

"Terjadi gangguan pasokan air disebabkan oleh berkurangnya kapasitas pengolahan akibat IPA 1 kapasitas 125 liter/detik dimatikan karena air baku terindikasi asin," ungkap Abisua.

Secara ilmiah, intrusi air asin terjadi akibat perubahan keseimbangan antara aliran air tawar dari hulu dengan dorongan air laut dari arah muara. Pada kondisi normal, debit sungai yang cukup besar mampu menahan masuknya air laut. Namun ketika musim kemarau membuat debit sungai menurun, tekanan air tawar melemah sehingga air laut lebih mudah bergerak masuk ke arah hulu, terutama saat terjadi pasang.

Kajian mengenai intrusi air asin di Sungai Kapuas yang dilakukan Klara Anggraini Tarigan, Hari Wibowo, dan Umar dari Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura menjelaskan bahwa jangkauan intrusi dipengaruhi oleh faktor debit sungai dan pasang surut. Ketika debit sungai berkurang, pengaruh air laut dapat menjangkau wilayah yang lebih jauh sehingga meningkatkan nilai salinitas atau kadar garam dalam air sungai.

Bagi PDAM, meningkatnya kadar garam pada air baku menjadi tantangan tersendiri karena instalasi pengolahan air konvensional tidak dirancang untuk menghilangkan kandungan garam dalam jumlah tinggi. Sistem pengolahan umumnya berfungsi mengurangi kekeruhan, lumpur, serta kandungan mikroorganisme, bukan melakukan proses pemisahan garam seperti teknologi desalinasi.

Akibat perubahan kualitas air baku tersebut, operator air minum perlu mengambil langkah penyesuaian agar kualitas air yang didistribusikan tetap terjaga. Pengurangan kapasitas produksi hingga penghentian sementara pengambilan air baku dapat dilakukan apabila kondisi sungai tidak memungkinkan untuk diolah.

Fenomena intrusi air asin menjadi pengingat bahwa dampak kemarau tidak hanya terlihat dari keringnya lahan atau meningkatnya titik panas. Bagi daerah yang bergantung pada sungai sebagai sumber air baku seperti Kapuas, perubahan debit dan kualitas air sungai menjadi faktor penting yang harus terus dipantau agar pasokan air bersih masyarakat tetap terjaga. (SABRIANOOR/y)