SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dinas Perhubungan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengusulkan konsep pagar buka-tutup di jalan ujung timur landasan pacu Bandara H Asan Sampit sebagai solusi menjaga akses masyarakat Kampung Bengkirai tanpa mengabaikan aspek keselamatan penerbangan.

Kepala Dinas Perhubungan Kotim Raihansyah mengatakan, berbagai alternatif telah dikaji, mulai dari pembangunan jalan di tepi Sungai Mentaya hingga jembatan terapung. Namun seluruh opsi tersebut dinilai memiliki banyak kendala.

"Jembatan terapung sempat kami kaji, tetapi tidak memungkinkan karena menjadi obstacle penerbangan dan arus Sungai Mentaya cukup deras sehingga berisiko terhadap keselamatan," katanya, Minggu, 2 Agustus 2026.

Menurutnya, pembangunan jalan baru di sepanjang bibir sungai juga membutuhkan pembebasan lahan yang cukup luas sehingga membutuhkan anggaran besar.

Sebagai alternatif, Dishub mengusulkan pagar bandara setinggi sekitar 2,4 meter yang dapat dibuka saat jam operasional kendaraan masyarakat dan ditutup kembali ketika aktivitas penerbangan berlangsung.

"Konsepnya seperti pintu perlintasan kereta api. Saat bandara beroperasi pagar ditutup, setelah itu dibuka kembali agar masyarakat tetap bisa melintas," ujarnya.

Ia menjelaskan, usulan tersebut telah dipaparkan kepada pemerintah pusat dan mendapat respons positif untuk dikaji lebih lanjut.

Saat ini, Dishub bersama Dinas PUPR masih menghitung aspek teknis, termasuk mekanisme pembukaan pagar, apakah menggunakan sistem elektrik atau manual.

Raihansyah menilai konsep tersebut jauh lebih efisien dibanding membangun jalan baru maupun jembatan terapung.

"Kalau dibandingkan membangun akses baru, solusi pagar buka-tutup ini jauh lebih hemat biaya dan tetap menjaga keamanan bandara serta kepentingan masyarakat," katanya.

Apabila terealisasi, sistem tersebut diperkirakan menjadi yang pertama diterapkan di bandara Indonesia. (DEWI PATMALASARI/y)