BORNEONEWS, Palangka Raya – Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang sebagai dampak dari kebijakan pemerintah mencabutan subsidi bagi pelanggan daya 900VA diprediksi turut andil memicu inflasi pada Januari 2017.

Perkiraan ini diungkapkan Setian, Deputi Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalteng bidang Ekonomi dan Moneter saat dihubungi Borneonews, Kamis (12/1/2017). Setian yang juga menjadi bagian tim pengendali inflasi daerah (TPID) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) ini menuturkan, kenaikan TDL tentu akan mendongkrak naiknya harga kebutuhan lainnya karena listrik merupakan komponen dasar produksi barang baik makanan maupun non makanan.

“Perkiraan kami, akhir Januari 2017 nanti akan terjadi Inflasi dangkal, kemungkinan dibawah 0,5% untuk Kalteng. Salah satunya didorong penaikan harga, antara lain naiknya TDL,” kata Setian kepada Borneonews.

Menurut Setian, salah satu cara untuk membendung agar tidak terjadi lonjakan harga pada kebutuhan pokok lainnya, adalah dengan mengamankan pasokan agar aman terutama komoditas yang tidak disuplay dari dalam Kalteng sendiri. Sebab pasokan dari luar sangat rentan ketika jalur distribusi terkendala sehingga memicu naiknya harga akibat di pasaran sempat menipis.

Ia mengungkapkan, pihaknya selalu menginventarisir komoditas yang menjadi pemicu andil inflasi baik kategori bulanan, triwulan atau bahkan yang sepanjang tahun. Ini guna antisipasi agar kalaupun terjadi penaikan bisa ditekan sedemikian rupa.

“Ada kami identifikasi mana yang merupakan pemicu sepanjang tahun. Juga ada yang memang sudah kami ketahui menjadi andil tetapi kami tidak bisa meintervensinya, misalnya harga angkutan udara, tarif listrik, dan harga BBM,”terang dia. (M ROZIQIN/B-8)