TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda wilayah Kabupaten Barito Timur. Kali ini, api membakar lahan masyarakat di RT 07 (Puruwian), Desa Dayu, Kecamatan Karusen Janang, Rabu, 2 September 2026.

Berdasarkan laporan penanganan di lapangan, luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 3,5 hektare. Tim gabungan yang dikerahkan berhasil mengendalikan api pada sekitar 3 hektare area terbakar, meski masih terdapat bagian lahan yang belum sepenuhnya padam ketika operasi dihentikan.

Informasi mengenai kebakaran pertama kali diterima dari masyarakat melalui pesan WhatsApp. Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD dan Damkar Barito Timur bersama unsur terkait bergerak dari Posko Siaga Karhutla Tamiang Layang pada pukul 12.59 WIB.

Perjalanan menuju lokasi memerlukan waktu sekitar 35 menit. Setibanya di lokasi, personel langsung melakukan penyisiran dan pemadaman terhadap vegetasi yang terbakar, mulai dari semak belukar, pepohonan kayu hingga pohon karet.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD dan Damkar Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan tim berhasil mengendalikan sebagian besar area yang terbakar meski penanganan di lapangan tidak berlangsung mudah.

“Dari sekitar 3,5 hektare lahan yang terbakar, tim sudah berhasil melakukan pemadaman sekitar 3 hektare. Namun, api belum sepenuhnya dipadamkan karena kondisi di lapangan cukup sulit,” ujar Parluhutan.

Menurutnya, vegetasi semak belukar yang rimbun menjadi salah satu faktor yang membuat proses penanganan membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar. Selain itu, titik kebakaran berada cukup jauh dari sumber air sehingga suplai air harus dilakukan secara bertahap.

“Kondisi di lapangan cukup sulit karena semak belukar sangat rimbun, sementara titik kebakaran cukup jauh dari sumber air. Asap yang tebal dan hari sudah mulai gelap juga menjadi kendala bagi personel dalam melakukan pemadaman,” katanya.

Untuk menunjang operasi, tim mendapatkan dukungan pasokan air dari sejumlah pihak. Perumdam Tirta Janang mengerahkan satu unit tangki suplai air, sedangkan PT AEP Nusantara Plantation menyediakan dua tangki dengan kapasitas masing-masing 3.000 liter dan 5.000 liter. Dukungan tambahan juga datang dari Polres Barito Timur melalui satu unit tangki suplai berkapasitas 5.000 liter.

Kondisi lahan turut menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan karhutla tersebut. Area yang terbakar memiliki karakter tanah marginal dan gambut, dengan vegetasi semak yang relatif mudah terbakar. Kondisi ini membuat proses pemadaman membutuhkan dukungan air secara berkelanjutan untuk memastikan bara maupun titik api tidak kembali menyala.

Operasi pemadaman melibatkan enam personel TRC-BPBD Barito Timur bersama anggota Polri dari Polsek dan Polres Barito Timur, TNI dari Kodim 1012/Buntok, personel Yonif TP 924/Uria Mapas, Satpol PP, Perumdam Tirta Janang, unsur perangkat daerah yang tergabung dalam Posko Terpadu Karhutla Barito Timur serta masyarakat setempat.

Sejumlah peralatan juga dikerahkan untuk mempercepat pengendalian api, di antaranya mobil operasional rescue BPBD, mobil pickup, mesin alkon, selang antar, nozzle, tandon air berkapasitas 1.000 liter, lima unit knapsack sprayer, perangkat komunikasi HT serta mobil operasional Satpol PP.

Upaya pemadaman dilakukan hingga pukul 17.34 WIB. Namun, karena kondisi medan, asap yang semakin tebal serta cahaya yang mulai berkurang, operasi tidak dapat dilanjutkan secara maksimal.

“Api belum sepenuhnya dipadamkan. Tim sudah melakukan upaya pemadaman semaksimal mungkin, tetapi kondisi medan, semak yang rimbun, keterbatasan sumber air, asap tebal dan kondisi yang mulai gelap menjadi tantangan di lapangan,” jelas Parluhutan.

Sebelum meninggalkan lokasi, seluruh unsur yang terlibat melakukan pengecekan personel untuk memastikan tidak ada anggota yang tertinggal selama proses penanganan.

“Sebelum keluar dari lokasi, masing-masing instansi mengecek anggotanya. Setelah dipastikan lengkap, seluruh tim kemudian kembali ke tempat masing-masing,” ungkapnya.

Dengan sekitar 3 hektare lahan berhasil dikendalikan dari total perkiraan 3,5 hektare area terbakar, penanganan karhutla di Desa Dayu masih menyisakan kewaspadaan terhadap kemungkinan munculnya kembali titik api. Pemantauan lanjutan diperlukan, terutama pada area dengan vegetasi semak dan karakter tanah gambut yang berpotensi menyimpan bara di bawah permukaan.

Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan dan deteksi dini tetap menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla di Barito Timur, terutama ketika kondisi lahan masih kering dan potensi kebakaran kembali meningkat. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)