TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kepungan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, terus menekan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Hingga Minggu, 4 Oktober 2026, sebanyak 2.378 warga tercatat terdampak Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) berdasarkan Dashboard Karhutla BPBD Damkar Barito Timur.

Angka tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya dampak karhutla terhadap masyarakat. Pada saat yang sama, kualitas udara di sejumlah wilayah masih berada pada level mengkhawatirkan dengan rata-rata Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tujuh hari terakhir mencapai 402,6 atau kategori Berbahaya.

Tekanan kabut asap bahkan sempat mencapai level sangat tinggi. Pada 30 September 2026, Dashboard BPBD Damkar mencatat ISPU di Kecamatan Dusun Tengah mencapai 1.499. Patangkep Tutui menyusul dengan 1.471, Awang 964, Dusun Timur 782, Paku 764 dan Karusen Janang 760.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada lahan yang terbakar. Asap yang dihasilkan turut memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat yang terpapar.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kualitas udara masih memburuk.

“Dengan kondisi kualitas udara yang masih berada pada kategori Berbahaya dan jumlah warga yang terdampak ISPA mencapai 2.378 jiwa, kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap,” pesannya.

Parluhutan juga meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk serta menggunakan masker sebagai langkah perlindungan dari paparan asap.

“Masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan menggunakan masker untuk membantu mengurangi paparan asap,” ujarnya.

Di tengah memburuknya kualitas udara, karhutla di Barito Timur juga masih terus terjadi. Hingga 4 Oktober 2026, dashboard mencatat 714 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terbakar mencapai 982,8 hektare.

Berdasarkan sebaran kejadian, Kecamatan Karusen Janang mencatat jumlah karhutla terbanyak dengan 152 kejadian dan luasan terbakar 186,2 hektare. Berikutnya Paju Epat dengan 127 kejadian dan 150,7 hektare serta Pematang Karau dengan 116 kejadian.

Namun dari sisi luasan, Pematang Karau menjadi wilayah dengan lahan terbakar paling luas, yakni mencapai 201 hektare.

Dusun Timur tercatat 94 kejadian dengan 69,7 hektare lahan terbakar, Paku 93 kejadian dengan 75,9 hektare, Raren Batuah 41 kejadian dengan 98,7 hektare dan Dusun Tengah 35 kejadian dengan 30,7 hektare.

Sementara Patangkep Tutui mencatat 20 kejadian dengan luasan 126,8 hektare, Awang 19 kejadian dengan 15,3 hektare dan Benua Lima 17 kejadian dengan 27,8 hektare.

Selain ancaman asap, karhutla juga berdampak terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Dashboard BPBD Damkar Barito Timur mencatat 6.198 kepala keluarga (KK) telah mendapatkan distribusi air bersih dengan total penyaluran mencapai 73.900 liter.

Parluhutan kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran yang berpotensi memicu karhutla baru.

“Kami tetap mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran yang dapat memicu terjadinya karhutla. Kondisi saat ini membutuhkan perhatian bersama karena dampak kebakaran tidak hanya terhadap lingkungan tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat,” tegasnya.

Dengan 714 kejadian karhutla, 982,8 hektare lahan terbakar dan 2.378 warga terdampak ISPA, penanganan karhutla di Barito Timur kini menghadapi persoalan yang lebih luas. Pemadaman api harus berjalan beriringan dengan perlindungan kesehatan masyarakat, pemenuhan air bersih serta pencegahan munculnya titik api baru.

Sementara rata-rata ISPU tujuh hari terakhir yang mencapai 402,6 atau kategori Berbahaya menjadi penanda bahwa ancaman kabut asap masih belum sepenuhnya mereda. Masyarakat pun diminta tetap waspada dan mengikuti imbauan pemerintah selama kualitas udara belum kembali membaik. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)