KABAR adanya seorang anak balita terpapar positif narkoba jenis sabu, bagai petir di siang bolong. Para pejabat dan pewarta yang hadir di ruang kantor Badan Narkotika Nasional Kota Palangka Raya terperangah.
Sungguh, semuanya terhenyak, kaget. Seorang suami, pecandu narkoba jenis sabu, mengajakisterinya yang sedang menyusui bayinya itu untuk menikmati sabu. Dan, setelah sekian bulan pasangan itu mengonsumsi sabu, tibalah hari nahas. Ia tertangkap bersama istrinya itu oleh petugas BNN.
Kepala BNNP Kalteng Kombes Pol Sumirat Dwiyanto menjelaskan, betapa malang nasib bayi tak berdosa itu. Karena dalam tubuh seorang ibu yang menyusui, zat adiktif sabu tadi akan lebih banyak larut ke air susu ibu (ASI) dari pada tinggal di tubuh sang ibu. Itu artinya, demikian Kombes Sumirat, zat sabu yang pindah ke tubuh sang bayi bisa dua hingga tiga kali daripada yang tinggal dalam tubuh ibu.
Gambaran mengerikan juga disampaikan Kombes Sumirat. Sang bayi, akan menderita demam tinggi, dan rewel. Selain itu akan mengalami berbagai kerusakan organ tubuh. Dan yang pasti, akan mengalami kerusakan otak.
Kombes Sumirat mengaku, selama bertugas di BNN, baru kali ini menjumpai kasus seorang bayi terpapar zat sabu melalui ASI.
Tetapi jelas, tidak menutup kemungkinan banyak bayi atau anak yang menjadi korban seperti ini. Karena, di mana-mana cukup banyak suami-istri atau ibu yang menjadi pecandu narkoba.
Dari kasus ini, sangatlah gamblang, bahwa tanda-tanda the lost generation akan tiba. Sebuah generasi akan hilang. Ketika seorang anak sejak bayi sudah terpapar narkoba, maka sepanjang hidupnya akan menjadi ‘mayat hidup’. Bahkan, karena berbagai kerusakan fisik akan dideritanya, maka dapat dipastikan umur bayi itu juga tidak akan panjang.
Pertanyaannya, apa yang akan terjadi ketika sebuah generasi yang kita miliki ini bagai mayat hidup? Sudah dapat dipastikan pula, bangsa dan negara ini akan hancur. Bangsa dan negara ini jelas tidakpunya masa depan. Dan, sudah pasti, masa depan itu milik bangsa lain. Karena negara dan bangsa ini kelak akan dikuasai, dijajah dan menjadi budak bangsa lain.
Fenomena bayi mengidap sabu melalui ASI, hendaknya menjadi bahan pelajaran berharga bagi bangsa ini. Gerakan pembelajaran, pencerahan, penyadaran, benar-benar harus digalakkan. Orang tua pecandu sabu yang mengorbankan anaknya melalui ASI, jelas buahdari kecerobohan dan kebodohan.
Pendidikan tidak boleh hanya dilaksanakan secara basa-basi. Proyek-proyek pendidikan janganlah dimainkan untuk mengeruk keuntungan dan kekayaan. Janganlah pula dikatakan bahwa pendidikan itu mahal. Berapapun mahalnya harus kita bayar. Demi masyarakat dan bangsa yang sehat, cerdas, tangguh dan maju.
Sekali lagi, janganlah kita berpikir pendidikanuntuk bangsa dan negara ini mahal. Marilah kita cermati dan sadari, betapa mahalnya harga dari sebuah kebodohan seperti ini. (Juga dimuat di Harian Palangka Post, Jumat, 20 Januari 2017).








