TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Seorang petani jamur tiram di Barito Timur bernama Agustinus Hermanto, mengaku kewalahan memenuhi permintaan dari pelanggannya. Sebab, melampaui kapasitas produksi jamurnya.

Warga jalan Ihem Damang, Kelurahan Tamiang, Kabupaten Barito Timur tersebut hanya mampu memproduksi jamur tiram rata-rata 15 kilogram per hari.

"Selalu habis terjual, itu pun hanya di Pasar Tamiang Layang saja menjualnya. Banyak permintaan yang tidak terlayani," kata Agustinus, Sabtu, 2 Oktober 2019.

Dia menjelaskan, kendala yang dihadapinya dalam meningkatkan produksi yakni kurangnya lahan budidaya, alat pembuatan baglog untuk media tanam, serta alat sterilisasi yang masih sederhana.

"Harusnya ini bisa dikembangkan lagi karena peminat atau konsumennya banyak. Namun petaninya tidak ada," kata Agustinus.

Dia menceritakan, beberapa tahun lalu pernah diminta sebuah instansi pemerintah untuk melatih budidaya jamur tiram kepada 24 orang petani. Namun tidak satu pun yang berjalan.

"Saya tidak keberatan mengajari. Justru peminat untuk budidaya jamur tiram yang tidak ada. Di Tamiang Layang hanya kami," lanjutnya.

Agustinus membudidayakan jamur tiram putih dan coklat yang dijual segar. Harganya Rp 40 ribu per kilogram untuk jamur tiram putih, dan Rp 50 ribu untuk jamur coklat. Selain itu kadang diolah menjadi jamur crispy untuk dikemas atau jamur asam manis, sesuai pesanan.

"Harga jamur tiram putih dan coklat beda karena kandungan nutrisi, rasa dan perawatannya juga beda," pungkas Agustinus.

Dari usaha kecil yang ditekuninya sejak 7 tahun silam, kini tempat budidaya yang ditempati sudah menjadi milik sendiri. (AGUSTINUS BOLE MALO/B-11)