BORNEONEWS, Tamiang Layang - Seorang wanita berusia 50 tahun bernama Lilis , merupakan pengrajin sekaligus pelestari anyaman rotan khas Dayak dari Barito Timur. Dia pun kerap menunjukkan karyanya di berbagai event, seperti Bazar Mini Komunitas UMK Barito Timur.
Berbagai kerajinannya seperti tas anyaman rotan khas Dayak dengan dengan berbagai ukuran dan motif.
"Semua harus menggunakan bahan baku rotan yang berkualitas untuk menghasilkan anyaman yang bagus," kata Lilis, mengawali perbincangan, Minggu, 1 Desember 2019.
Tak hanya itu, di ruang tamu rumah Lilis di RT 04, Desa Haringen, Kecamatan Dusun Timur, juga terlihat bahan baku rotan yang sudah dibelah tipis-tipis dan tas berbagai ukuran berserakan.
"Saya mengenal kerajinan anyaman rotan ini sejak kecil, karena memang turun dari orangtua. Tapi saya mulai tekuni sebagai usaha sejak tahun 2008," tutur Lilis.
--page
Dia mengatakan, saat ini anyaman rotan yang ditekuninya sudah menjadi usaha utama untuk menopang ekonomi keluarga. Lilis dibantu 5 orang pekerja lepas. Sementara suaminya bertugas mencari atau membeli rotan dari petani, kemudian membelah, meraut, serta menjemur rotan hingga siap dijadikan bahan anyaman.
Setiap pekerja mengerjakan bagian tertentu dari anyaman tersebut, ada yang bertugas membuat cincin, ada yang menganyam tali dan ada juga yang menganyam badan tas. Lilis sendiri mampu membuat tas 10 buah dalam sebulan.
Untuk membuat motif anyaman, Lilis menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan di sekitar. Seperti warna hitam menggunakan daun rambutan dan pararau, sedangkan untuk warna merah menggunakan daun jati muda yang terlebih dahulu dihancurkan.
"Untuk warna merah prosesnya panjang sekali, bisa sebulan. Setelah direbus di panci khusus, didiamkan hingga kering dengan sendirinya," Lilis.
Namun sebagai pengrajin kecil, Lilis juga mengalami kendala dalam pemasaran, selama ini penjualan hanya melalui pesanan orang. Belum ada toko atau galeri yang yang khusus menampung kerajinan hasil karya Lilis.
--page
"Biasanya selama ini pembeli memesan lewat facebook atau lewat teman. Juga kalau ada acara-acara saya bawa tasnya," katanya.
Lilis bukanlah sosok yang pelit dengan ilmu yang dimiliki. Dalam beberapa bulan terakhir Ia menjadi instruktur menganyam berbagai bentuk barang dengan macam-macam bahan baku, bagi ibu-ibu PKK di beberapa desa di Barito Timur.
Sebagai pengusaha mikro, Lilis juga memiliki impian agar kelak anyaman rotan produksinya dapat terpajang di etalase toko atau galeri supaya lebih dikenal luas.
"Sebenarnya pengen punya galeri sendiri untuk pemasaran atau paling tidak ada khusus galeri atau tempat lain yang menampung produk kami untuk dijual," kata Lilis mengakhiri perbincangan. (BOLE MALO/B-11)








