PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sejumlah komoditas barang utama diimpor Provinsi Kalteng selama bulan Maret 2021 lalu. Itu diketahui berdasarkan data dari BPS Kalteng.

Komoditas utama tersebut yakni mesin/pesawat mekanik berupa mesin untuk keperluan umum, mesin untuk industri pengolahan makanan, serta pompa untuk lainnya dan kompresor sebesar US$ 7,27 juta.

"Ada juga bahan bakar mineral berupa aspal dengan nilai US$ 2,15 juta, bahan kimia organik berupa methanol sebesat US$ 0,81 juta, serta pupuk berupa pupuk kalium klorida sebesar US$ 0,64 juta," ujar Eko, Rabu, 5 Mei 2021.

Diungkapkannya, jika dibanding nilai impor pada bulan Februari 2021, pada Maret 2021 terjadi peningkatan impor yang signifikan yaitu pada komoditas mesin/pesawat mekanik senilai US$7,24 juta atau 24.133,33 persen.

Selain itu, impor bahan bakar mineral dan bahan kimia organik juga meningkat masing-masing senilai US$ 1,54 juta atau 252,46 persen dan US$ 0,81 juta.

--page

Sementara itu, impor komoditas pupuk berbagai produk kimia bijih, kerak, dan abu logam, serta lokomotif dan peralatan kereta api mengalami penurunan.

"Apabila dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, selama Maret 2021 terjadi peningkatan nilai impor untuk hampir seluruh golongan barang, kecuali berbagai produk kimia dan beberapa komoditas yang termasuk dalam kelompok golongan barang lainnya, sperti bahan kimia anorganik, mesin/peralatan listrik, dan benda-benda dari besi dan baja," jelasnya.

Di sisi lain, ungkap dia, untuk impor mesin/pesawat mekanik mengalami peningkatan terbesar senilai US$ 7,16 juta atau 6.509,09 persen, diikuti bahan bakar mineral senilai US$ 1,33 juta atau 162,20 persen, dan bahan kimia organik senilai US$ 0,81 juta.

Jika dihitung selama bulan Januari–Maret 2021, impor seluruh komoditas di Kalteng mengalami peningkatan senilai US$ 6,77 juta atau 87,92 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

"Peningkatan terbesar adalah dari komoditas mesin/pesawat mekanik yang mengalami
kenaikan senilai US$ 6,77 juta atau 1.147,46 persen," tuturnya.

--page

"Sementara penurunan terbesar adalah dari komoditas bahan bakar mineral yang mengalami penurunan senilai US$ 1,46 juta atau 34,52 persen," terangnya.

Dia menambahkan, kalau dilihat dari peranannya, kontribusi tertinggi berasal dari kelompok komoditas mesin/pesawat mekanik senilai US$ 7,36 juta atu 50,86 persen terhadap total impor. Kemudian, impor bahan bakar mineral menempati urutan kedua dengan nilai kumulatif senilai US$ 2,77 juta dan berkontribusi 19,14 persen terhadap total impor. (DONNY D/B-7)