TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Kepala Pelaksana BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Riza Rahmadi mengungkapkan, hingga hari ini hotspot atau titik panas di Barito Timur masih nihil.

Selama ini, hotspot yang terpantau melalui citra Satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) menjadi indikator bagi BPBD Damkar maupun instansi terkait untuk mengetahui terjadinya kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.

"Informasi dari pusdatin (pusat data dan informasi) yang kami kelola, sampai hari ini hotspot masih nihil. Mudah-mudahan kalaupun ada, hotspot itu bukan firespot atau titik api," ungkap Riza usai simulasi penanggulangan kebakaran bersama DPC PDIP di halaman kantor BPBD Damkar, Selasa, 22 Juni 2021.

Terkait kesiapan BPBD Damkar dalam menghadapi musim kemarau dan bencana karhutla, Riza menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengantisipasi dengan mempersiapkan semua pos damkar yang ada.

"Semua sudah kami siapkan, baik itu pos damkar yang ada di Pematang Karau, Ampah, Benua Lima, Paku maupun di Tamiang Layang. Kami juga bekerja sama dengan TNI dan Polri untuk mengantisipasi bencana karhutla," lanjutnya.

--page

Menurut data BMKG Tjilik Riwut Palangka Raya, musim kemarau di Barito Timur akan dimulai pada dasarian kedua atau 10 hari kedua pada bulan Juni 2021.

Sedangkan puncak kemarau di Kecamatan Benua Lima, Dusun Timur bagian barat,
Paju Epat, Dusun Tengah, Karusen Janang, Paku, Pematang Karau, Raren Batuah terjadi pada bulan Agustus, sedangkan Kecamatan Awang, Dusun Timur bagian timur dan Kecamatan Patangkep Tutui puncak kemarau terjadi pada bulan September. (BOLE MALO/B-7)