PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Menurut data BPS Kalteng pada bulan Juli 2022, Kalteng mengalami inflasi sebesar 0,44 persen nerdasarkan dua kota acuan Palangka Raya dan Sampit.

Ada beberapa komoditas yang mengakibatkan terjadinya inflasi seperti naiknya harga avtur atau bahan bakar pesawat terbang, bahan bakar rumah tangga, bawang, merah, cabai rawit dan lain-lain. Kenaikan harga itu karena diakibatkan berbagai faktor hingga terjadilah inflasi.

Oleh karena itu, Staf Ahli Gubernur Kalteng Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Yuas Elko berharap, kedepan, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kalteng dapat terus melakukan pemantauan terhadap pengembangan harga komoditas dan melakukan serangkaian kegiatan pengendalian inflasi.

"Kegitan itu harus berfokus pada stabilitas harga dan pasokan komoditas pangan bergejolak atau volatile foods, antara lain melalui opsi penambahan pasokan yang bersumber dari luar Provinsi Kalteng, dan jika diperlukan melakukan kegiatan operasi pasar," ujarnya, Kamis, 4 Agustus 2022.

Selain itu, TPID juga diharapkan dapat terus mendorong peningkatan pasokan dari dalam daerah dengan pengembangan sentra produksi seperti cabai rawit di Kalteng, sehingga hal itu dapat menekan inflasi di provinsi ini kedepan.

--page

Dikatakannya juga bahwa, berdasarkan perkiraan TPID Kalteng risiko kenaikan inflasi volatile foods pada bulan Agustus ini akan menurun seiring mulai masuknya masa panen pada beberapa sentra produksi padi di Kalteng, seperti Kapuas dan Pulang Pisau.

"Sementara itu, kami akan terus mencermati perkembangan komoditas energi sehingga transmisi kenaikan harganya terhadap komoditas lainnya dapat diantisipasi," pungkasnya. (DONNY D/B-7)