BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat atau NTPR Provinsi Kalimantan Tengah mengalami kenaikan lantaran hasil produksi yang juga naik.
"Tanaman perkebunan rakyat merupakan subsektor andalan di Kalimantan Tengah. NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat pada April 2024 mengalami kenaikan sebesar 1,47 persen dibanding Maret 2024, dari 141,81 menjadi 143,90," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng, Eko Marsoro pada Minggu, 26 Mei 2024.
Menurut Eko, kenaikan ini disebabkan oleh indeks yang diterima Indeks harga yang diterima atau It mengalami peningkatan sebesar 2,50 persen yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar oleh Petani atau Ib yang sebesar 1,02 persen.
"Peningkatan It pada April 2024 disebabkan oleh naiknya indeks harga hasil produksi pada kelompok tanaman perkebunan rakyat yakni kelapa sawit, karet, dan kelapa," katanya lagi.
Komoditas karet, lanjutnya, dalam empat bulan terakhir menjadi penyumbang kenaikan indeks harga pada subsektor tanaman perkebunan rakyat.
--page
"Sementara itu, pada April 2024 kelapa sawit kembali menjadi penyumbang kenaikan indeks harga pada subsektor tanaman perkebunan rakyat setelah pada Januari mengalami penurunan tipis," jelasnya.
Kenaikan harga karet menurut Eko disebabkan oleh meningkatnya harga karet alam pada minggu pertama hingga kedua April 2024.
"Sementara kenaikan harga kelapa sawit disebabkan oleh peningkatan permintaan minyak sawit dunia yang tidak diimbangi peningkatan produksinya," bebernya.
Selain itu, lanjut Eko, ekskalasi geopolitik di Timur Tengah juga menjadi pemicu kenaikan harga minyak sawit dunia.
"Adapun Ib subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami kenaikan dari 125,31 pada Maret 2024 menjadi 126,59 pada April 2024," jelasnya.
Kenaikan yang terjadi pada Ib sebesar 1,02 persen menurut Eko disebabkan oleh naiknya dua indeks penyusunnya, yakni indeks kelompok KRT sebesar 1,18 persen dan indeks kelompok BPPBM sebesar 0,11 persen. (TESTI PRISCILLA/j)









