PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengumumkan bahwa Nilai Tukar Petani Hortikultura atau NTPH mengalami penurunan sebesar 0,97 persen pada bulan September 2024.

Penurunan ini disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani atau It hortikultura sebesar 1,00 persen, yang lebih tinggi dibandingkan dengan penurunan indeks harga yang dibayar petani atau Ib hortikultura sebesar 0,02 persen.

Agnes menjelaskan bahwa penurunan It pada September 2024 disebabkan oleh turunnya harga pada dua kelompok utama penyusunnya. Kelompok sayur-sayuran seperti cabai rawit, sawi hijau, tomat, bayam, dan bawang daun mengalami penurunan harga sebesar 2,08 persen. Sementara itu, kelompok buah-buahan seperti semangka, nanas, dan pisang mengalami penurunan harga sebesar 0,32 persen

Di sisi lain, kelompok tanaman obat-obatan seperti kemangi justru mengalami kenaikan harga sebesar 1,51 persen.

"Penurunan harga pada kelompok sayur-sayuran dan buah-buahan ini cukup signifikan dan berdampak pada keseluruhan It hortikultura," ujar Agnes pada Minggu, 6 Oktober 2024.

Penurunan indeks harga yang dibayar petani atau Ib pada September 2024 sebesar 0,02 persen, dari 124,29 menjadi 124,26, kata Agnes juga turut mempengaruhi NTPH. Penurunan Ib ini disebabkan oleh turunnya dua indeks penyusunnya, yaitu indeks kelompok KRT sebesar 0,01 persen dan indeks BPPBM sebesar 0,18 persen.

Agnes menambahkan bahwa penurunan NTPH ini menunjukkan adanya tekanan pada daya beli petani hortikultura di Kalimantan Tengah.

"Kami akan terus memantau perkembangan ini dan bekerja sama dengan pihak terkait untuk mencari solusi yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan petani," kata Agnes.

Dengan adanya penurunan NTPH ini, diharapkan pemerintah dan stakeholder terkait dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk mendukung petani hortikultura, sehingga mereka dapat terus berproduksi dan meningkatkan kesejahteraan mereka di masa mendatang. (TESTI PRISCILLA/H)