PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengumumkan bahwa Nilai Tukar Pembudidaya Ikan atau NTPi di provinsi tersebut mengalami kenaikan sebesar 1,85 persen pada bulan September 2024. Kenaikan ini sejalan dengan peningkatan Nilai Tukar Nelayan atau NTN yang juga menunjukkan tren positif.

Agnes menjelaskan bahwa kenaikan NTPi ini disebabkan oleh peningkatan indeks harga yang diterima oleh pembudidaya ikan sebesar 1,84 persen.

"Indeks harga yang diterima pembudidaya ikan mengalami kenaikan signifikan, sementara indeks harga yang dibayar oleh mereka justru mengalami penurunan tipis sebesar 0,01 persen," kata Agnes pada Selasa, 8 Oktober 2024.

Lebih lanjut, Agnes merinci bahwa kenaikan indeks harga hasil produksi terutama terjadi pada dua kelompok budidaya. Kelompok budidaya air tawar, yang mencakup ikan patin, nila, dan gabus/haruan, mengalami kenaikan sebesar 1,91 persen. Sementara itu, kelompok budidaya air payau, yang mencakup ikan bandeng dan udang, mencatat kenaikan sebesar 1,77 persen.

Penurunan tipis pada indeks harga yang dibayar oleh pembudidaya ikan didominasi oleh penurunan pada kelompok Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal atau BPPBM sebesar 0,03 persen.

"Penurunan ini memberikan sedikit kelonggaran bagi pembudidaya ikan dalam hal biaya produksi," tambah Agnes.

--page

Agnes juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan.

"Kami berharap tren positif ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah," katanya.

Dengan kenaikan NTPi ini, lanjutnya, diharapkan para pembudidaya ikan di Kalimantan Tengah dapat terus meningkatkan produksi dan kualitas hasil budidaya mereka, sehingga dapat bersaing di pasar lokal maupun nasional. (TESTI PRISCILLA/Y)