PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sejak tahun 2018, Badan Pusat Statistik atau BPS telah menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga untuk menyempurnakan metode penghitungan luas panen padi. Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyatakan bahwa kolaborasi ini melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau LAPAN yang kini menjadi bagian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional atau Kementerian ATR/BPN, serta Badan Informasi dan Geospasial atau BIG.

Metode yang digunakan adalah Kerangka Sampel Area (KSA), yang memanfaatkan teknologi citra satelit dari LAPAN. Teknologi ini digunakan oleh BIG untuk mendelineasi peta lahan baku sawah yang kemudian divalidasi dan ditetapkan oleh Kementerian ATR/BPN.

"Dengan metode KSA, kami dapat mengestimasi luas panen padi dengan lebih akurat," ujar Agnes Widiastuti didampingi Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Ahmad Husain menyampaikan berita resmi statistik pada Jumat, 1 November 2024.

Penyempurnaan penghitungan produksi beras dilakukan secara komprehensif, mencakup tidak hanya luas lahan baku sawah, tetapi juga konversi gabah kering menjadi beras. Data yang dikumpulkan meliputi luas lahan baku sawah nasional yang ditetapkan sebesar 7.463.948 hektare berdasarkan Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN No.686/SK-PG.03.03/XII/2019.

Selain itu, pengamatan fase tumbuh padi dilakukan untuk menghitung luas panen menggunakan KSA yang dikembangkan bersama BPPT dan telah diakui oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI, yang kini juga menjadi bagian dari BRIN. Produktivitas per hektare diperoleh dari Survei Ubinan yang telah disempurnakan dengan metode berbasis sampel KSA.

--page

Untuk penghitungan potensi produksi padi periode September−Desember 2024, digunakan pendekatan rata-rata produktivitas Subround III yakni September−Desember 2018−2023. Angka konversi dari gabah kering panen atau GKP ke gabah kering giling atau GKG dan dari GKG ke beras berasal dari Survei Konversi Gabah ke Beras tahun 2018, yang dilakukan di dua periode musim berbeda dengan basis provinsi.

Agnes Widiastuti menambahkan bahwa penyempurnaan ini diharapkan dapat memberikan data yang lebih akurat dan dapat diandalkan untuk pengambilan kebijakan terkait produksi beras di Indonesia.

"Kami terus berupaya meningkatkan kualitas data demi mendukung ketahanan pangan nasional," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/Y)