BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada November 2024, terjadi kenaikan Nilai Tukar Petani Perikanan atau NTNP sebesar 0,29 persen di Kalimantan Tengah.
Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa kenaikan ini disebabkan oleh peningkatan indeks harga yang diterima nelayan dan pembudidaya ikan atau It sebesar 0,62 persen, yang lebih besar dari kenaikan indeks harga yang dibayar nelayan dan pembudidaya ikan atau Ib sebesar 0,33 persen.
Kenaikan It subsektor perikanan didominasi oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pada kelompok perikanan tangkap sebesar 0,82 persen.
"Kenaikan harga hasil produksi perikanan tangkap ini menunjukkan adanya peningkatan permintaan dan kualitas hasil tangkapan nelayan," ujar Agnes pada Sabtu, 14 Desember 2024.
Sementara itu, kenaikan Ib subsektor perikanan sebesar 0,33 persen disebabkan oleh kenaikan harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh nelayan dan pembudidaya ikan.
"Kenaikan ini mencerminkan adanya peningkatan biaya hidup dan produksi yang harus ditanggung oleh nelayan dan pembudidaya ikan," tambah Agnes.
Agnes Widiastuti menekankan pentingnya pemantauan dan pengendalian harga komoditas perikanan untuk menjaga stabilitas ekonomi nelayan dan pembudidaya ikan.
"Kami terus berupaya untuk memantau dan mengendalikan harga komoditas perikanan agar nelayan dan pembudidaya ikan dapat tetap sejahtera," jelasnya.
Dengan adanya kenaikan NTNP, diharapkan pemerintah dan pihak terkait dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mendukung nelayan dan pembudidaya ikan dalam menghadapi tantangan ini.
"Kami berharap upaya ini dapat membantu meringankan beban nelayan dan pembudidaya ikan serta meningkatkan kesejahteraan mereka," kata Agnes.
Secara keseluruhan, kenaikan NTNP pada November 2024 menunjukkan adanya peningkatan daya beli nelayan dan pembudidaya ikan di Kalimantan Tengah.
"Kami optimis bahwa dengan kerja sama yang baik antara pemerintah, nelayan, dan pihak terkait, sektor perikanan di Kalimantan Tengah dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian daerah," tutur Agnes Widiastuti. (TESTI PRISCILLA/H)









