BORNEONEWS, Palangka Raya - Selama Oktober 2024, nilai impor Kalimantan Tengah mencapai US$3,65 juta, mengalami penurunan sebesar 49,93 persen, hampir 50 persen, dibandingkan dengan September 2024 yang tercatat sebesar US$7,29 juta.
"Penurunan ini mencerminkan adanya fluktuasi dalam aktivitas impor di wilayah ini," ujar Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti pada Jumat, 27 Desember 2024.
Meski nilai impor menurun, volume impor Kalimantan Tengah justru mengalami peningkatan sebesar 3,99 persen, dari 4,76 ribu ton pada September 2024 menjadi 4,95 ribu ton pada Oktober 2024.
Penurunan nilai impor ini disebabkan oleh adanya penurunan nilai impor kelompok non-migas dari US$5,79 juta pada September 2024 menjadi US$1,48 juta pada Oktober 2024.
"Penurunan ini menunjukkan adanya perubahan dalam permintaan dan harga komoditas non-migas," jelas Agnes.
--page
Sementara itu, kelompok migas mengalami peningkatan dari US$1,50 juta pada September 2024 menjadi US$2,17 juta pada Oktober 2024.
Dilihat menurut kelompok komoditas non-migas, industri pengolahan menjadi kelompok yang mengalami penurunan, baik secara nilai maupun volume.
"Penurunan ini mencerminkan adanya tantangan dalam sektor industri pengolahan di Kalimantan Tengah," tambah Agnes.
Hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya upaya untuk meningkatkan daya saing dan kualitas produk industri pengolahan.
Penurunan nilai impor di Kalimantan Tengah pada Oktober 2024 dibandingkan dengan September 2024 utamanya didorong oleh berkurangnya nilai maupun volume impor pada kelompok bahan bakar mineral, seperti aspal.
"Penurunan ini menunjukkan adanya fluktuasi dalam permintaan dan harga bahan bakar mineral," kata Agnes.
Hal ini menunjukkan bahwa sektor bahan bakar mineral menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi.
Agnes Widiastuti menekankan pentingnya diversifikasi sumber impor untuk mengurangi ketergantungan pada beberapa komoditas utama. Diversifikasi ini diharapkan dapat memberikan stabilitas dan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi sektor impor.
Dengan adanya penurunan nilai impor ini, diharapkan pemerintah dan pihak terkait dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan daya saing komoditas impor Kalimantan Tengah di pasar internasional.
"Kami berharap upaya ini dapat membantu meningkatkan nilai impor dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian daerah," katanya. (TESTI PRISCILLA/Y)









