PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada Desember 2024, Nilai Tukar Nelayan atau NTN mengalami kenaikan sebesar 0,23 persen.

Kenaikan ini terjadi karena indeks harga yang diterima nelayan atau It naik sebesar 0,73 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan indeks harga yang dibayar nelayan atau Ib yang hanya sebesar 0,49 persen.

"Kenaikan It ini menunjukkan bahwa nelayan mendapatkan harga yang lebih baik untuk hasil tangkapan mereka," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti pada Senin, 13 Januari 2025.

Kenaikan It pada tingkat nelayan didominasi oleh kenaikan indeks harga produksi pada kelompok penangkapan perairan umum. Beberapa jenis ikan yang berkontribusi terhadap kenaikan ini adalah lais, baong/tagih/sogo, dan gabus, dengan kenaikan sebesar 2,03 persen. Hal ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan dari perairan umum memiliki nilai jual yang lebih tinggi pada bulan Desember 2024.

"Di sisi lain, kelompok penangkapan laut mengalami penurunan indeks harga produksi sebesar 0,67 persen. Jenis hasil tangkapan laut yang mengalami penurunan harga adalah udang laut dan rajungan. Penurunan ini mungkin disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan kondisi pasar atau penurunan permintaan terhadap hasil tangkapan laut tersebut," katanya.

Adapun kenaikan indeks harga yang dibayar nelayan atau Ib sebesar 0,49 persen disebabkan oleh kenaikan dua indeks penyusunnya. Indeks kelompok konsumsi rumah tangga atau KRT naik sebesar 0,59 persen, yang menunjukkan adanya peningkatan biaya hidup bagi nelayan. Selain itu, indeks kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal atau BPPBM juga naik sebesar 0,32 persen, yang mencerminkan kenaikan biaya produksi yang harus ditanggung oleh nelayan.

"Kenaikan indeks kelompok KRT sebesar 0,59 persen menunjukkan bahwa nelayan harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka," tuturnya lagi.

Hal ini bisa disebabkan oleh kenaikan harga barang-barang konsumsi atau peningkatan kebutuhan rumah tangga nelayan. Kenaikan ini tentunya mempengaruhi daya beli nelayan secara keseluruhan.

Sementara itu, kenaikan indeks kelompok BPPBM sebesar 0,32 persen menunjukkan adanya peningkatan biaya produksi yang harus ditanggung oleh nelayan. Biaya produksi ini mencakup berbagai aspek, seperti peralatan penangkapan ikan, bahan bakar, dan biaya perawatan perahu. Kenaikan biaya produksi ini dapat mempengaruhi keuntungan yang diperoleh nelayan dari hasil tangkapan mereka. (TESTI PRISCILLA/H)