BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti mengatakan bahwa ekspor melalui pelabuhan di Kalimantan Tengah selama November 2024 didominasi oleh hasil industri, dengan nilai mencapai US$54,67 juta atau 85,97 persen dari total ekspor.
"Hasil industri yang diekspor terutama berasal dari kelompok lemak dan minyak hewani/nabati, seperti minyak kelapa sawit. Selain itu, kayu dan barang dari kayu, termasuk kayu olahan, kayu lapis, dan veneer, juga menjadi komoditas ekspor utama," kata Agnes pada Sabtu, 25 Januari 2025.
Menurut Agnes, ampas dan sisa industri makanan, seperti bungkil dan residu, turut menyumbang dalam ekspor hasil industri ini.
Selama November 2024, layanan ekspor komoditas tambang melalui pelabuhan di Kalimantan Tengah mencakup 14,03 persen dari total ekspor.
"Sebagian besar komoditas tambang ini diekspor melalui pelabuhan di luar Kalimantan Tengah. Nilai ekspor hasil tambang melalui pelabuhan Kalimantan Tengah pada bulan tersebut mencapai US$8,92 juta. Komoditas tambang yang diekspor meliputi bahan bakar mineral seperti batu bara, bijih, kerak, dan abu logam seperti bijih seng dan bijih timbal, serta bahan mineral lainnya seperti garam, belerang, dan kapur," katanya.
Secara tahunan, layanan ekspor melalui pelabuhan di Kalimantan Tengah pada November 2024 mengalami peningkatan sebesar 11,25 persen dibandingkan dengan November 2023. Pada November 2023, nilai ekspor mencapai US$59,15 juta, sedangkan pada November 2024 meningkat menjadi US$63,59 juta. Peningkatan ini menunjukkan adanya pertumbuhan dalam aktivitas ekspor melalui pelabuhan di wilayah tersebut.
--page
"Namun, secara kumulatif, jika dibandingkan dengan periode Januari-November 2023, terjadi penurunan layanan ekspor melalui pelabuhan di Kalimantan Tengah pada Januari-November 2024. Penurunan ini mencapai US$230,11 juta atau turun sebesar 27,37 persen," katanya.
Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya aktivitas ekspor pada ketiga sektor utama, yaitu hasil industri, komoditas tambang, dan hasil pertanian.
Penurunan aktivitas ekspor pada ketiga sektor tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan permintaan pasar global, fluktuasi harga komoditas, serta kebijakan perdagangan internasional. Selain itu, faktor-faktor lokal seperti kondisi cuaca, infrastruktur pelabuhan, dan kapasitas produksi juga dapat mempengaruhi volume ekspor. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan daya saing produk ekspor dan memperbaiki infrastruktur pendukung ekspor di Kalimantan Tengah.
Untuk mengatasi penurunan ini, pemerintah dan pelaku usaha perlu bekerja sama dalam mengidentifikasi dan mengatasi hambatan-hambatan yang ada. Diversifikasi produk ekspor, peningkatan kualitas produk, serta pengembangan pasar baru dapat menjadi strategi yang efektif. Selain itu, investasi dalam infrastruktur pelabuhan dan peningkatan kapasitas produksi juga penting untuk mendukung pertumbuhan ekspor di masa mendatang. (TESTI PRISCILLA/Y)









