BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada Januari 2025, terjadi kenaikan Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan atau NTPP sebesar 1,86 persen. Hal ini disebabkan oleh kenaikan indeks harga yang diterima petani atau It sebesar 2,04 persen, yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani atau Ib= yang hanya sebesar 0,18 persen.
Perubahan ini mencerminkan situasi dinamis di sektor pertanian yang dipengaruhi oleh fluktuasi harga pasar.
"Kenaikan It pada Januari 2025 sebesar 2,04 persen disebabkan oleh peningkatan pada salah satu komponen indeks harga penyusunnya, yaitu kelompok padi yang mengalami kenaikan sebesar 2,32 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti pada Selasa, 18 Februari 2025.
Kenaikan ini menurut Agnes terjadi karena masa panen padi telah berlalu sehingga stok gabah mulai berkurang, menyebabkan harga padi meningkat.
"Meskipun ada kenaikan signifikan pada kelompok padi, kelompok palawija justru mengalami penurunan sebesar 1,87 persen. Penurunan indeks harga pada kelompok palawija disebabkan oleh turunnya harga komoditas ketela pohon," katanya lagi.
Faktor ini menunjukkan adanya ketidakstabilan dalam harga komoditas tertentu yang dapat memengaruhi pendapatan petani. Penurunan harga ketela pohon ini menjadi perhatian khusus bagi petani yang bergantung pada komoditas tersebut untuk mata pencaharian mereka.
"Selain itu, kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) pada Januari 2025 sebesar 0,18 persen juga berkontribusi terhadap kenaikan NTPP," terang Agnes lagi.
Kenaikan Ib ini disebabkan oleh naiknya dua komponen indeks, yaitu indeks kelompok konsumsi rumah tangga (KRT) sebesar 0,04 persen dan kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,72 persen. Kedua komponen ini mencerminkan biaya yang harus dikeluarkan oleh petani untuk keperluan konsumsi dan produksi.
"Perubahan dalam komponen-komponen tersebut menunjukkan adanya dinamika dalam biaya hidup dan biaya produksi yang dihadapi oleh petani. Kenaikan ini mengindikasikan tekanan biaya yang harus ditanggung oleh petani dalam menjalankan usaha pertanian mereka. Namun, dengan adanya kenaikan It yang lebih tinggi dibandingkan Ib, petani masih dapat menikmati peningkatan pendapatan secara relatif," katanya. (TESTI PRISCILLA/H)









