BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, mengungkapkan adanya penurunan signifikan dalam jumlah nilai saham dan nilai transaksi saham di wilayah tersebut selama setahun terakhir.
"Jumlah nilai saham mengalami penurunan sebesar Rp898,95 miliar atau -21,06 persen dari Rp4.278,64 miliar menjadi Rp3.379,69 miliar year-on-year atau yoy," kata Primandanu pada Selasa, 4 Maret 2025.
Primandanu menyampaikan bahwa penurunan ini mencerminkan kondisi pasar yang belum stabil, ditambah dengan berbagai tantangan ekonomi yang sedang dihadapi oleh masyarakat dan pelaku usaha.
"Kami akan terus memantau perkembangan ini dan berupaya melakukan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi dampak negatif yang lebih lanjut," ujarnya.
Tidak hanya itu, nilai transaksi saham pada bulan Desember 2024 juga mengalami penurunan drastis sebesar Rp6.633,8 miliar atau -91,54 persen yoy, dari Rp7.246,56 miliar menjadi Rp612,76 miliar. Penurunan yang tajam ini menunjukkan adanya kekhawatiran di kalangan investor dan pelaku pasar mengenai stabilitas ekonomi ke depan.
--page
Primandanu menjelaskan bahwa faktor-faktor eksternal seperti ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas turut memengaruhi penurunan tersebut.
"Kami mengimbau kepada para pelaku pasar untuk tetap tenang dan bijaksana dalam mengambil keputusan investasi," tambahnya.
Selain itu, OJK Kalimantan Tengah juga tengah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk merumuskan kebijakan yang dapat mendorong pemulihan ekonomi dan meningkatkan kembali kepercayaan investor.
"Kami yakin bahwa dengan kolaborasi dan langkah-langkah yang tepat, kita dapat mengatasi tantangan ini," kata Primandanu optimis.
Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi OJK Kalimantan Tengah dan diharapkan agar langkah-langkah strategis yang diambil dapat memberikan dampak positif bagi stabilitas dan perkembangan pasar modal di wilayah Kalteng. (TESTI PRISCILLA/Y)









