BORNEONEWS, Palangka Raya - Pengimplementasian berbagai instrumen kebijakan pemerintah dalam mendukung pengembangan hilirisasi minyak sawit melalui tiga jalur hilirisasi sawit tersebut telah berhasil membawa perubahan besar pada komposisi ekspor minyak sawit Indonesia.
"Berdasarkan data ITC Trade Map dan BPS yang diolah PASPI dalam laporan berjudul Hilirisasi dan Perubahan Komposisi Ekspor Minyak Sawit Indonesia diketahui, pada tahun 2010 komposisi ekspor minyak sawit Indonesia masih didominasi kelompok produk bahan mentah atau CPO dengan pangsa sebesar 57 persen, kemudian diikuti oleh kelompok produk processed palm oil sebanyak 38 persen, dan produk akhir berbasis sawit atau palm oil-based products 5 persen," kata Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP Kelapa Sawit, Eddy Abdurrachman pada Selasa, 11 Maret 2025.
Program hilirisasi yang semakin intensif dan konsisten dijalankan sejak tahun 2011 berimplikasi pada perubahan komposisi ekspor minyak sawit Indonesia tahun 2020 yang didominasi oleh kelompok processed palm oil dengan pangsa sebesar 67 persen, kemudian diikuti oleh kelompok palm oil-based products sebanyak 11 persen.
"Sementara itu, pangsa ekspor kelompok produk bahan mentah hanya 22 persen. Selain perubahan komposisi ekspor tersebut, hilirisasi minyak sawit juga menciptakan nilai tambah baru, pendapatan baru, dan kesempatan kerja baru bagi perekonomian Indonesia," terangnya.
Terlepas dari komposisi ekspor tersebut, kinerja ekspor produk sawit tahun 2020 berhasil menorehkan prestasi yang membanggakan. Berdasarkan laporan PASPI, diketahui nilai ekspor minyak sawit Indonesia tahun 2010 tercatat sekitar US$16,3 miliar dan mengalami peningkatan sebesar 40 persen dalam kurun waktu 10 tahun kemudian sehingga nilai ekspornya menjadi US$22,9 miliar pada tahun 2020.
Dalam laporan yang sama, PASPI mengatakan bahwa selain devisa ekspor produk sawit yang semakin meningkat, kinerja ekspor minyak sawit Indonesia saat ini juga semakin berkualitas.
"Hal ini dikarenakan ekspor minyak sawit tersebut berasal dari perkebunan sawit yang tersebar pada lebih dari 235 kabupaten di Indonesia sehingga peningkatan pendapatan devisa dari ekspor minyak sawit tersebut juga disertai dengan peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja di daerah sentra kebun sawit," tuturnya.
Selain itu juga karena sekitar 35 persen minyak sawit yang diekspor dihasilkan dari 2,5 juta orang petani sawit rakyat atau usaha mikro kecil menengah (UMKM), dan ekspor minyak sawit tersebut juga didominasi produk olahan yang dihasilkan oleh industri hilir domestik. (TESTI PRISCILLA/H)









