BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, melaporkan kenaikan Indeks Harga Petani atau It sebesar 1,63 persen pada Maret 2025 dibandingkan dengan Februari 2025.
"Indeks tersebut meningkat dari angka 169,71 menjadi 172,48, mencerminkan pergerakan positif di seluruh subsektor pertanian," kata Agnes pada Kamis, 10 April 2025.
Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan harga pada subsektor hortikultura yang mencatat lonjakan tertinggi sebesar 7,10 persen. Agnes menekankan bahwa perubahan ini menunjukkan dinamika pasar yang kuat dalam sektor tersebut, didorong oleh tingginya permintaan terhadap produk hortikultura di Kalimantan Tengah.
"Tidak hanya hortikultura, subsektor tanaman pangan juga mengalami peningkatan sebesar 0,46 persen. Tanaman perkebunan rakyat mencatat kenaikan 1,57 persen, sementara subsektor peternakan menunjukkan kenaikan sebesar 1,30 persen. Kenaikan harga di subsektor-sektor ini memberikan dampak positif terhadap pendapatan para petani," jelasnya.
Di subsektor perikanan, kenaikan sebesar 0,24 persen turut berkontribusi pada peningkatan Indeks Harga Petani secara keseluruhan. Agnes Widiastuti menjelaskan bahwa kontribusi subsektor perikanan ini penting, meskipun peningkatannya tidak terlalu signifikan dibandingkan subsektor lainnya.
--page
Menurut BPS Kalimantan Tengah, kenaikan indeks tersebut mencerminkan pemulihan ekonomi yang terus berlangsung serta adaptasi yang lebih baik terhadap tantangan pasar. Agnes mengungkapkan bahwa data tersebut menunjukkan prospek positif bagi petani di daerah, sekaligus memperkuat posisi subsektor pertanian sebagai sektor unggulan.
"Dengan peningkatan Indeks Harga Petani ini, pemerintah diharapkan dapat terus memperhatikan kebijakan yang mendukung stabilitas harga dan kesejahteraan petani. Agnes Widiastuti menyimpulkan bahwa sinergi antar-sektor diperlukan untuk mendorong keberlanjutan pertanian di Kalimantan Tengah," katanya. (TESTI PRISCILLA/y)









