PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa impor utama wilayah ini pada Februari 2025 didominasi oleh Malaysia sebesar US$0,94 juta dan Singapura sebesar US$0,71 juta.

"Komoditas utama dari Malaysia berupa mesin lainnya yakni kelompok mesin/pesawat mekanik, sementara dari Singapura didominasi oleh aspal dari kelompok bahan bakar mineral," kata Agnes pada Kamis, 17 April 2025.

Meski masih ada aktivitas impor, Agnes mencatat bahwa terjadi penurunan nilai impor dari berbagai negara pada Februari 2025 sebesar US$2,53 juta, atau turun 60,53 persen dibandingkan Januari 2025.

"Penurunan tertinggi berasal dari Singapura dengan nilai US$1,41 juta atau turun 66,51 persen. Penurunan juga terjadi dari negara-negara lain seperti Federasi Rusia, Laos, Brasil, dan beberapa negara lainnya," terangnya.

Dibandingkan dengan Februari tahun sebelumnya, penurunan impor menjadi lebih signifikan. Agnes menjelaskan bahwa total nilai impor Kalimantan Tengah pada Februari 2025 turun sebesar US$4,55 juta atau 73,39 persen dari US$6,20 juta di Februari 2024 menjadi US$1,65 juta pada Februari 2025.

"Secara kumulatif selama periode Januari-Februari 2025, nilai impor Kalimantan Tengah tercatat hanya sebesar US$5,83 juta, mengalami penurunan signifikan hingga US$12,66 juta atau 68,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai US$18,49 juta," terangnya.

Agnes menyebut bahwa penurunan impor tertinggi dalam periode tersebut terjadi dari Malaysia, dengan nilai penurunan mencapai US$12,13 juta atau sebesar 88,73 persen. Penurunan ini sejalan dengan pengurangan kebutuhan beberapa komoditas tertentu di Kalimantan Tengah.

Penurunan nilai impor ini, menurut Agnes, mengindikasikan adanya perubahan pola perdagangan dan konsumsi di Kalimantan Tengah. Ia berharap adanya strategi baru untuk menjaga stabilitas perdagangan di wilayah ini demi mendukung pertumbuhan ekonomi regional. (TESTI PRISCILLA/j)