BORNEONEWS, Palangka Raya - Aktivitas bongkar muat komoditas impor di Kalimantan Tengah melalui berbagai pelabuhan menunjukkan dinamika yang beragam selama Februari 2025. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, menyatakan bahwa aktivitas ini dilakukan di dua pelabuhan utama, yaitu Pelabuhan Kumai dan Pelabuhan Sampit.
"Nilai impor di Pelabuhan Kumai tercatat sebesar US$0,94 juta, sedangkan Pelabuhan Sampit sebesar US$0,71 juta," kata Agnes pada Jumat, 18 April 2025.
Dibandingkan bulan Januari 2025, aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Sampit mengalami penurunan drastis sebesar US$2,06 juta atau turun 74,37 persen.
"Sebaliknya, Pelabuhan Kumai mencatatkan peningkatan yang signifikan dengan tambahan nilai impor sebesar US$0,56 juta, meningkat hingga 147,37 persen," tuturnya.
Namun, bila dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya, aktivitas bongkar muat impor di berbagai pelabuhan Kalimantan Tengah secara umum mengalami penurunan sebesar US$4,55 juta atau turun 73,39 persen.
"Penurunan terbesar terjadi di Pelabuhan Pangkalan Bun dengan nilai penurunan mencapai US$3,18 juta, yang berarti aktivitas impor di pelabuhan ini benar-benar terhenti," katanya.
Selain itu, secara kumulatif pada periode Januari-Februari 2025, penurunan nilai ekspor juga terjadi di beberapa pelabuhan utama di Kalimantan Tengah.
"Penurunan paling signifikan dicatat oleh Pelabuhan Pulang Pisau sebesar US$8,15 juta atau turun 88,78 persen, diikuti oleh Pelabuhan Pangkalan Bun dengan penurunan senilai US$5,34 juta atau turun 100,00 persen," terang Agnes lagi.
Di tengah penurunan ini, Pelabuhan Kumai menjadi titik terang dengan adanya peningkatan nilai impor sebesar US$0,82 juta selama periode Januari-Februari 2025, meningkat hingga 164,00 persen. Agnes Widiastuti menjelaskan bahwa lonjakan ini menunjukkan potensi yang masih bisa dikembangkan di pelabuhan tersebut.
Agnes menegaskan pentingnya menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perubahan signifikan dalam aktivitas bongkar muat ini. Hal ini diperlukan untuk menentukan strategi yang efektif dalam meningkatkan nilai perdagangan di pelabuhan-pelabuhan di Kalimantan Tengah.
"Kami terus memantau dan menganalisis data untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai tren perdagangan di wilayah ini," ujar Agnes. (TESTI PRISCILLA/H)









