PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyoroti pentingnya hilirisasi industri sebagai upaya strategis untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam sesi pleno Forum Bisnis Indonesia-Rusia yang bertema "Russia-Indonesia Strategy of Partnership," Menko Airlangga menyatakan bahwa hilirisasi kelapa sawit memiliki potensi besar untuk memberikan nilai tambah lebih bagi Indonesia.

"Selain sawit, pemerintah turut fokus pada hilirisasi di sektor unggulan lainnya seperti nikel, tembaga, bauksit, dan petrokimia," kata Airlangga dalam rilis yang dikirimkan Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP pada Kamis, 24 April 2025.

Menko Airlangga menekankan bahwa kebijakan hilirisasi bertujuan untuk meningkatkan daya saing global dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Dalam forum yang mempertemukan lebih dari 30 perusahaan Rusia dari berbagai sektor, termasuk teknologi digital, pariwisata, dan makanan, ia menggarisbawahi pentingnya kerja sama nyata antara pelaku bisnis Indonesia dan Rusia. Forum ini diselenggarakan oleh Yayasan Roscongress dan Kamar Dagang dan Industri atau KADIN Indonesia.

Sementara itu Deputi Pertama Perdana Menteri Rusia, Denis Manturov, turut memberikan pandangannya dalam forum tersebut. Ia menyampaikan harapan untuk memperluas kerja sama strategis dengan Indonesia di bidang energi, teknologi, dan pertanian. Manturov juga mengungkapkan optimisme bahwa perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) dapat segera terwujud tahun ini, memperkuat hubungan dagang kedua negara.

Pemerintah Indonesia juga memanfaatkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai instrumen utama untuk menarik investasi dan memperkuat ekonomi nasional. Menko Airlangga menjelaskan bahwa saat ini terdapat 25 KEK yang tersebar di seluruh Indonesia, mencakup berbagai sektor seperti pariwisata, industri, digital, dan aero technic. Dengan pemberian fasilitas serta insentif khusus, KEK diharapkan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Selain itu, Indonesia turut fokus pada transformasi digital untuk mendukung ekonomi masa depan. Menko Airlangga memproyeksikan bahwa ekonomi digital Indonesia dapat mencapai nilai hingga USD1 triliun pada 2030. Aturan dalam kerangka Digital Economy Framework Agreement (DEFA) juga diharapkan meningkatkan kontribusi ekonomi digital ASEAN hingga USD2 triliun.

Menutup pertemuan, Menko Airlangga berharap diskusi bisnis ini menghasilkan kesepakatan awal yang memanfaatkan keunggulan masing-masing negara.

"Kita optimis kerja sama investasi di sektor teknologi siber, pariwisata, kesehatan, hingga pendidikan dapat terwujud, termasuk peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Rusia. Diskusi ini juga membuka peluang investasi baru di bidang energi terbarukan, teknologi, dan manufaktur," katanya. (TESTI PRISCILLA/j)