BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP bekerja sama dengan Asosiasi Inventor Indonesia atau AII dalam mempromosikan hasil riset dari Program Grant Riset Sawit atau GRS BPDP.
Riset ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas petani dan diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pengguna utama, yaitu petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM di sektor kelapa sawit.
Upaya ini diwujudkan dalam kegiatan Diseminasi Teknologi Hasil GRS yang Aplikatif bagi Peningkatan Produktivitas Petani, yang diselenggarakan di Hotel Labersa, Kampar, Riau, pada akhir April lalu. Acara ini diikuti oleh 52 peserta yang terdiri dari petani dan UMKM kelapa sawit.
Direktur Penyaluran Dana BPDP, Mohammad Alfansyah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa BPDP menjalankan mandatnya dengan membiayai riset dari berbagai lembaga di Indonesia.
"Tujuannya adalah menghasilkan kebijakan serta teknologi yang dapat memperkuat industri kelapa sawit nasional di pasar global," kata Alfansyah seperti dalam rilis yang diterima Borneonews pada Rabu, 7 Mei 2025.
BPDP berharap kerja sama dengan AII dapat memastikan bahwa teknologi yang telah ditemukan benar-benar diterapkan dan dimanfaatkan oleh petani kelapa sawit. Alfansyah menekankan bahwa pendanaan riset sawit berasal dari kontribusi pelaku industri kelapa sawit, termasuk petani, sehingga hasilnya harus memberikan manfaat langsung bagi mereka.
"Selain mendanai riset, BPDP juga berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di sektor kelapa sawit dengan menyediakan beasiswa bagi anak-anak petani," tutur Alfansyah lagi.
Program beasiswa ini memungkinkan mereka melanjutkan pendidikan tinggi dengan fokus pada perkelapasawitan di tingkat diploma dan sarjana. Penyaluran beasiswa dilakukan melalui Dinas Perkebunan dan dikoordinasikan oleh Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian.
Menurut Alfansyah, tidak hanya perkebunan kelapa sawit yang perlu diremajakan, tetapi juga para petaninya.
"Oleh karena itu, BPDP juga menyediakan dana untuk replanting, serta sarana dan prasarana kebun, seperti pembangunan jalan dan infrastruktur pendukung lainnya," katanya.
Sementara itu, Ketua Umum AII, Prof (Ris) Didiek Hadjar Goenadi mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan merespons keluhan petani yang merasa bahwa hasil riset program GRS belum sepenuhnya bermanfaat bagi mereka.
"Kami berharap dengan dukungan BPDP, AII dapat menyelenggarakan diseminasi teknologi ini di tiga provinsi, yaitu Riau, Sumatera Utara, dan Kalimantan Selatan," kata Prof Didiek.
Dalam diseminasi di Kampar, diperkenalkan tiga teknologi yang berpotensi meningkatkan produktivitas petani kelapa sawit. Teknologi pertama adalah alat pendeteksi kematangan buah (TBS) oleh Dr-Eng Muhammad Makky dan tim dari Universitas Andalas. Kedua, sistem pintar berbasis android untuk penyuluhan kelapa sawit oleh Muhdan Syahovy dari PPKS Medan. Ketiga, teknologi pengendalian penyakit Ganoderma dengan fungisida nabati oleh Ciptadi Achmad Yusup dari PPKS Unit Bogor. (TESTI PRISCILLA/H)









