BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami deflasi year-on-year atau y-on-y sebesar 0,45 persen pada April 2025.
"Indeks harga kelompok ini turun dari 99,80 pada April 2024 menjadi 99,35 pada April 2025," kata Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti pada Jumat, 9 Mei 2025.
Agnes mengungkapkan bahwa penurunan harga terutama terjadi pada subkelompok peralatan informasi dan komunikasi, yang mengalami deflasi tertinggi sebesar 1,06 persen.
Selain itu, subkelompok layanan informasi dan komunikasi juga mengalami deflasi y-on-y sebesar 0,39 persen. Namun, subkelompok jasa keuangan tetap stabil tanpa perubahan indeks harga.
"Penurunan harga di sektor informasi dan komunikasi menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat serta dinamika pasar yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi," ujar Agnes Widiastuti.
Kelompok pengeluaran ini memberikan andil deflasi y-on-y sebesar 0,03 persen terhadap angka inflasi keseluruhan di Kalimantan Tengah. Beberapa komoditas yang berkontribusi dalam tren deflasi ini antara lain tarif pulsa ponsel dengan andil sebesar 0,02 persen serta telepon seluler yang menyumbang deflasi sebesar 0,01 persen. Faktor ini menunjukkan bahwa harga layanan komunikasi semakin terjangkau bagi masyarakat.
Sementara itu, secara month-to-month atau m-to-m, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga mencatat deflasi sebesar 0,02 persen pada April 2025 dibandingkan Maret 2025.
"Deflasi m-to-m ini dipengaruhi oleh penurunan harga tarif pulsa ponsel, yang memberikan kontribusi sebesar 0,02 persen," jelas Agnes.
BPS Kalimantan Tengah menilai bahwa tren ini sejalan dengan perkembangan sektor komunikasi dan teknologi di daerah tersebut. Kompetisi antar penyedia layanan, perubahan strategi pemasaran, serta peningkatan efisiensi produksi dapat menjadi beberapa faktor yang mendorong penurunan harga di kelompok ini.
Meski mengalami deflasi, BPS Kalimantan Tengah mengimbau masyarakat dan pelaku industri untuk tetap memantau perkembangan harga di sektor ini.
"Kami akan terus melakukan pemantauan terhadap pergerakan harga dan faktor-faktor yang memengaruhinya guna menyediakan data yang akurat dan bermanfaat bagi pengambilan kebijakan," tutup Agnes Widiastuti. (TESTI PRISCILLA/H)









