PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, melaporkan bahwa terjadi penurunan persentase pekerja penuh di Kalimantan Tengah pada Februari 2025.

Berdasarkan data dari Survei Angkatan Kerja Nasional atau Sakernas, jumlah pekerja penuh, yakni mereka yang bekerja minimal 35 jam per minggu, mencapai 66,83 persen dari total penduduk bekerja.

"Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,76 persen poin dibandingkan Februari 2024," kata Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti pada Sabtu, 17 Mei 2025.

Sementara itu, pekerja tidak penuh yang mencakup 33,17 persen dari total penduduk bekerja mengalami peningkatan. Kelompok ini terdiri dari dua kategori, yaitu setengah pengangguran dan pekerja paruh waktu.

"Setengah pengangguran adalah mereka yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu dan masih mencari pekerjaan atau bersedia menerima pekerjaan lain, sedangkan pekerja paruh waktu tidak mencari atau bersedia menerima pekerjaan lain meskipun bekerja kurang dari 35 jam per minggu," jelasnya.

Pada Februari 2025, tingkat setengah pengangguran tercatat sebesar 5,93 persen, turun sebesar 2,17 persen poin dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini menunjukkan adanya peningkatan kesempatan kerja bagi kelompok ini.

"Sebaliknya, tingkat pekerja paruh waktu mengalami kenaikan sebesar 2,92 persen poin, mencapai 27,23 persen. Kenaikan ini dapat mengindikasikan perubahan pola kerja atau preferensi individu dalam memilih jam kerja," terangnya.

Menurut Agnes Widiastuti, tren ini mencerminkan dinamika pasar tenaga kerja di Kalimantan Tengah yang terus berubah dari tahun ke tahun.

"Penurunan angka setengah pengangguran menunjukkan bahwa semakin banyak penduduk yang mendapatkan jam kerja lebih stabil. Namun, kenaikan pekerja paruh waktu juga perlu diperhatikan, karena dapat menjadi indikasi preferensi terhadap pekerjaan yang lebih fleksibel," ujarnya.

BPS Kalimantan Tengah akan terus memantau perkembangan ketenagakerjaan di provinsi ini guna memberikan gambaran yang akurat mengenai kondisi pasar kerja. Data ini penting bagi pemerintah dan pelaku ekonomi untuk merancang kebijakan yang tepat guna meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja.

"Dengan adanya perubahan dalam struktur pekerja penuh dan pekerja tidak penuh, diharapkan berbagai pihak dapat bekerja sama dalam meningkatkan kesempatan kerja dan kesejahteraan tenaga kerja di Kalimantan Tengah ke depannya," harap Agnes. (TESTI PRISCILLA/H)