PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengungkapkan bahwa secara spasial, empat kabupaten/kota yang menjadi Indeks Harga Konsumen atau IHK di provinsi tersebut mengalami deflasi pada Mei 2025.

”Deflasi secara month to month tercatat di Sampit sebesar 0,08 persen, Kabupaten Kapuas 1,43 persen, Kabupaten Sukamara 0,27 persen, dan Kota Palangka Raya 0,15 persen,” kata Agnes yang menyampaikan berita resmi statistik didampingi Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Yuas Elko pada Senin, 2 Juni 2025.

Menurut Agnes, penurunan harga beberapa komoditas utama menjadi faktor utama penyebab deflasi di daerah tersebut.

"Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap deflasi bulanan di seluruh kabupaten/kota adalah cabai rawit dan bawang merah," ujarnya.

Ketersediaan yang melimpah dari sentra produksi menyebabkan harga kedua komoditas tersebut turun secara signifikan.

Data BPS menunjukkan bahwa pasokan cabai rawit mengalami lonjakan akibat musim panen di berbagai daerah, termasuk suplai dari Jawa dan Banjarmasin. Sementara itu, bawang merah mengalami penurunan harga seiring dengan panen raya yang terjadi di beberapa wilayah sentra produksi seperti Brebes dan Bima. Hal ini berkontribusi besar terhadap tren deflasi yang terjadi di Kalimantan Tengah.

--page

Meski sebagian besar wilayah mengalami deflasi, terdapat beberapa komoditas yang justru mengalami kenaikan harga dan menyumbang inflasi. Agnes menyebutkan, di antara komoditas tersebut adalah tomat, tarif pulsa ponsel, dan emas perhiasan, yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 persen terhadap inflasi.

Secara nasional, angka inflasi dan deflasi juga menjadi perhatian. Pada Mei 2025, Indonesia mencatat deflasi month to month sebesar 0,37 persen, sementara inflasi year on year mencapai 1,6 persen. Kalimantan Tengah sendiri menempati posisi ke-12 dalam daftar provinsi dengan deflasi bulanan terdalam secara nasional.

BPS Kalimantan Tengah terus memantau perkembangan harga di berbagai sektor, terutama menjelang musim panen dan distribusi komoditas pangan.

"Kami akan terus memberikan informasi yang akurat agar masyarakat dan pelaku usaha dapat merencanakan kebijakan ekonomi dengan lebih baik," tutur Agnes. (TESTI PRISCILLA/Y)