SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di kalangan pelajar, Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bersama Puskesmas Baamang I melakukan fogging (pengasapan) di tiga sekolah menengah atas yang berada di Jalan Kerinci, Kelurahan Baamang Hilir, Sampit, beberapa waktu lalu.

Salah satu lokasi fogging adalah SMA Negeri 2 Sampit, yang letaknya berdekatan dengan permukiman warga tempat satu kasus DBD ditemukan.

“Kami lakukan fogging karena ditemukan satu kasus demam berdarah di kompleks belakang sekolah. Setelah kami lakukan penyelidikan epidemiologi, kami laporkan ke Dinas Kesehatan, dan langsung dilakukan fogging untuk mencegah penyebaran,” ujar Bimbi Ambar, staf Puskesmas Baamang I, Jumat, 25 Juli 2025.

Dinas Kesehatan menegaskan, kegiatan fogging dilakukan sebagai bentuk respons cepat terhadap laporan adanya warga yang terserang DBD di lingkungan dekat sekolah. Meski kasus ditemukan di luar area sekolah, langkah pencegahan diambil agar tidak terjadi penularan lebih lanjut ke lingkungan pendidikan.

“Kasus DBD tersebut diduga berasal dari lingkungan rumah warga, bukan dari sekolah. Tapi karena lokasinya sangat dekat, kami putuskan lakukan fogging siklus kedua untuk memastikan lingkungan aman,” tambah Bimbi.

Fogging merupakan langkah pengendalian populasi nyamuk Aedes aegypti, vektor utama pembawa virus DBD. Langkah ini dilakukan secara menyeluruh di area rawan seperti saluran air, taman, ruang kelas, dan sudut-sudut sekolah yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Sampai saat ini, belum ada indikasi adanya siswa atau guru yang tertular DBD dari lingkungan sekolah tersebut.

Ia mengimbau seluruh masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar lokasi sekolah dan kawasan padat penduduk, untuk rutin melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Langkah sederhana seperti menguras, menutup, dan mengubur (3M) tempat penampungan air sangat efektif dalam mencegah perkembangbiakan nyamuk.

Sementara itu, Kepala SMAN 2 Sampit, Kodarahim mengatakan fogging dilakukan menyeluruh, termasuk di dalam ruang kelas dan area sekitar sekolah. Untuk menghindari paparan asap, seluruh siswa dipulangkan lebih awal sebelum jam pulang sekolah.

“Kami dari pihak sekolah sangat mendukung langkah Dinas Kesehatan. Saat fogging dilakukan, siswa kami pulangkan lebih awal. Hingga saat ini, tidak ada laporan siswa kami yang terkena DBD,” pungkas Kodarahim. (DEWI PATMALASARI/y)