SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dinas Perhubungan Kabupaten Kotawaringin Timur (Dishub Kotim) mengingatkan pengemudi angkutan berat agar tidak melebihi kapasitas jalan dan jembatan alternatif selama perbaikan Jembatan Sei Lenggana. Kendaraan dengan ketinggian muatan lebih dari 5 meter bahkan diminta putar balik atau melangsir muatan demi keselamatan bersama.

“Jadi kami meminta putar balik atau untuk mengurangi muatannya untuk dilangsir, agar tetap aman saat melewati jalan alternatif,” kata Plt Kepala Dishub Kotim, Raihansyah, melalui Kasi Lalu Lintas dan Angkutan Multimoda, Agus Sunoto, pada Selasa, 29 Juli 2025.

Ia menyebut, kemarin, Senin, 28 Juli 2025, saat awal sistem buka tutup jalan alternatif dimulai, terjadi insiden di mana muatan truk terjatuh akibat sawit terlalu tinggi lebih dari 5 meter. Truk tersebut kehilangan keseimbangan saat memasuki jalur alternatif.

Lanjutnya, terkait kapasitas jalan dan jembatan alternatif memang hanya 8 ton. Namun saat ini banyak kendaraan, terutama truk sawit dan pengangkut material bangunan, yang melintas dengan beban di atas kapasitas.

Agus menjelaskan, kondisi jalur alternatif yang berada di wilayah rawa atau gambut membuatnya sangat rentan rusak dan amblas jika dilintasi kendaraan dengan beban berat seperti truk pengangkut CPO bermuatan 16-20 ton.

“Tanah di jalur itu labil. Jika terus dilalui kendaraan berat, maka akan cepat rusak dan menimbulkan gelombang. Itu juga bisa memicu kemacetan,” jelasnya.

Untuk menghindari risiko tersebut, Dishub meminta agar sopir mematuhi batas tonase maksimal 8 ton dan tinggi muatan maksimal 5 meter. Jika tidak memungkinkan, muatan harus dikurangi atau dilangsir sebelum melintasi jalur alternatif.

“Pada intinya kami bersama Satlantas Polres Kotim terus menyosialisasikan itu. Kami standby setiap hari selama perbaikan Jembatan Sei Lenggana berlangsung. Diperkirakan waktu perbaikan mencapai empat bulan ke depan,” kata Agus.

Ia juga mengimbau agar seluruh pihak, terutama pelaku usaha angkutan, turut mendukung upaya ini demi kelancaran lalu lintas dan keselamatan pengguna jalan.

“Kami berharap kesadaran dari semua pihak agar jalur alternatif tetap aman dilalui sampai proyek selesai,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)