BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi year-on-year atau y-on-y disebabkan oleh peningkatan harga di sebagian besar kelompok pengeluaran masyarakat. Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa kenaikan ini menunjukkan dinamika harga yang mencerminkan tekanan ekonomi di berbagai sektor konsumsi.
Agnes mengungkapkan bahwa kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 7,93 persen.
“Lonjakan ini berkontribusi signifikan terhadap inflasi tahunan, karena merupakan kebutuhan harian yang terus mengalami penyesuaian harga,” ujar Agnes menyampaikan Berita Resmi Statistik pada Jumat, 1 Agustus 2025.
Selain itu, kelompok pendidikan menyumbang inflasi sebesar 3,22 persen, dipengaruhi oleh biaya administrasi dan kebutuhan pendidikan menjelang tahun ajaran baru.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut mengalami inflasi sebesar 3,11 persen, sementara kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mencatat kenaikan 2,94 persen.
“Pola konsumsi masyarakat yang meningkat pasca-pandemi ikut mendorong permintaan sehingga berdampak pada harga,” tambah Agnes.
Kategori pakaian dan alas kaki juga menunjukkan inflasi 2,17 persen, diikuti oleh sektor kesehatan 1,43 persen dan rekreasi, olahraga, serta budaya sebesar 0,88 persen.
Beberapa sektor rumah tangga mencatat kenaikan yang lebih moderat, seperti kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,30 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,18 persen. Agnes menilai bahwa meski kenaikannya relatif kecil, sektor ini tetap berpengaruh karena cakupan konsumsi yang luas di kalangan masyarakat.
Di sisi lain, terdapat kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yakni transportasi turun sebesar 1,19 persen dan kelompok informasi, komunikasi, serta jasa keuangan turun 0,17 persen.
“Penurunan harga pada transportasi dipengaruhi oleh tarif angkutan dan harga bahan bakar, sedangkan layanan digital semakin kompetitif,” jelas Agnes.
BPS Kalteng menekankan pentingnya pemantauan harga secara berkala sebagai acuan pengambilan kebijakan daerah.
“Inflasi adalah indikator vital yang mencerminkan daya beli dan stabilitas ekonomi. Kami berharap sinergi pemerintah dan pelaku usaha dapat menjaga harga tetap terkendali,” tutur Agnes. (TESTI PRISCILLA/y)









