BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi sebesar 0,27 persen secara month-to-month atau m-to-m pada Juli 2025.
Menurut Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti, penyumbang utama inflasi bulan ini berasal dari komoditas pangan, terutama cabai rawit yang berkontribusi sebesar 0,11 persen.
“Cabai rawit mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan, diikuti oleh daging ayam ras sebesar 0,10 persen dan tomat sebesar 0,09 persen,” jelas Agnes pada Sabtu, 2 Agustus 2025.
Komoditas lain yang turut memberikan andil inflasi termasuk kopi bubuk (0,07 persen), Sigaret Kretek Mesin (SKM) (0,05 persen), bawang merah (0,03 persen), dan ikan peda (0,02 persen).
Selain itu, beberapa komoditas memberikan kontribusi inflasi yang lebih kecil namun tetap berdampak pada Indeks Harga Konsumen (IHK). Di antaranya adalah minyak goreng, kangkung, bumbu masak jadi, Sigaret Kretek Tangan (SKT), ikan saluang, biskuit, dan telur ayam ras, yang masing-masing menyumbang 0,01 persen.
"Kenaikan harga pada komoditas-komoditas ini menunjukkan tekanan inflasi yang bersumber dari kebutuhan konsumsi rumah tangga," tambah Agnes.
Sementara itu, tekanan deflasi berasal dari penurunan harga sejumlah komoditas ikan dan sayuran. Ikan gabus menjadi penyumbang deflasi tertinggi dengan kontribusi sebesar -0,14 persen. Ketimun menyusul dengan -0,03 persen, lalu ikan nila sebesar -0,02 persen.
Komoditas lain yang memberi andil deflasi sebesar -0,01 persen antara lain ikan baung, terong, cumi-cumi, cabai merah, ikan lais, kunyit, ikan kapar, dan buncis. Penurunan harga ini menurut BPS mencerminkan dinamika pasokan musiman dan respon pasar terhadap permintaan.
Agnes menegaskan, fluktuasi harga pangan masih menjadi faktor utama pembentukan inflasi daerah, dan BPS terus melakukan pemantauan untuk memastikan ketersediaan data yang akurat sebagai dasar kebijakan.
"Kami harapkan sinergi dari berbagai pihak untuk menjaga stabilitas harga, terutama menjelang momen besar yang dapat memicu gejolak harga pangan," ujarnya. (TESTI PRISCILLA/H)









