PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan bahwa industri sawit Indonesia memiliki kontribusi nyata dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk periode 2015–2030. Menurutnya, sawit bukan hanya komoditas unggulan, tetapi juga instrumen pembangunan yang menyentuh tiga dimensi utama SDGs: ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Keberlanjutan ekonomi yang dihasilkan oleh industri sawit sangat inklusif. Ia memberikan manfaat yang merata, dari petani di desa hingga masyarakat negara importir,” ujar Eddy pada Rabu, 6 Agustus 2025.

Ia merujuk pada kajian PASPI (2024) yang menyebutkan bahwa ekonomi inklusif sawit mampu menciptakan akses dan peluang ekonomi di berbagai level, termasuk lokal, regional, nasional, hingga global.

Di tingkat desa, perkebunan sawit menjadi sumber penghidupan utama bagi petani dan pekerja. Eddy menekankan bahwa pendapatan dari budidaya sawit lebih tinggi dan stabil dibandingkan komoditas pertanian lainnya.

“Petani sawit bisa memenuhi kebutuhan dasar hingga barang mewah. Ini bukti bahwa sawit bukan hanya menguntungkan pelaku usaha besar,” katanya.

Lebih jauh, Eddy membantah tudingan bahwa manfaat ekonomi sawit hanya dinikmati secara eksklusif. Ia menyebut bahwa perkebunan sawit menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang mendorong pertumbuhan UMKM, sektor jasa, dan perdagangan lokal.

“Sawit adalah lokomotif ekonomi desa. Ia mengubah wilayah tertinggal menjadi pusat ekonomi baru,” tegasnya.

Studi empiris menunjukkan bahwa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah sentra sawit tumbuh lebih cepat dibandingkan daerah non-sawit. Eddy menyebut ini sebagai bukti bahwa sawit memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang dengan sektor ekonomi lainnya.

“Sawit bukan hanya soal ekspor, tapi juga soal pembangunan daerah,” ujarnya.

Kontribusi sawit juga tercermin dalam PDB nasional. Nilai output dan nilai tambah industri sawit terus meningkat setiap tahun. Eddy menyebut bahwa ini menunjukkan posisi strategis sawit sebagai sektor unggulan dalam perekonomian Indonesia.

“Kita tidak bisa mengabaikan peran sawit dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional,” katanya.

Tak hanya di dalam negeri, manfaat ekonomi sawit juga dirasakan oleh negara-negara importir. Eddy menjelaskan bahwa aktivitas hilirisasi dan perdagangan minyak sawit di negara tujuan ekspor turut menciptakan pendapatan bagi masyarakat di sana.

“Ini adalah bukti bahwa sawit memberikan manfaat global yang inklusif,” ujarnya.

Menurut Eddy, prinsip SDGs yakni “no one left behind” tercapai melalui kontribusi industri sawit. Ia menekankan bahwa pembangunan berkelanjutan harus mengedepankan keseimbangan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Sawit telah membuktikan bahwa pembangunan bisa inklusif dan berkelanjutan,” katanya.

BPDP, lanjut Eddy, akan terus mendorong riset dan inovasi untuk memperkuat keberlanjutan industri sawit. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk melihat sawit secara objektif dan berdasarkan data.

“Kita harus keluar dari narasi negatif dan mulai melihat fakta bahwa sawit adalah bagian dari solusi pembangunan,” tutupnya. (TESTI PRISCILLA/H)