SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kemacetan panjang kembali terjadi di jalur alternatif Jembatan Sei Lenggana, Jalan Jenderal Sudirman Km 21, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis malam, 7 Agustus 2025. Truk tangki bermuatan berat berpelat non-KH terperosok, memicu patahnya kayu jembatan darurat dan mengakibatkan antrean kendaraan hingga berjam-jam.

Plt Kepala Dinas Perhubungan Kotim, Raihansyah, menegaskan bahwa insiden tersebut akibat pelanggaran batas tonase angkutan. Ia menilai kejadian ini harus menjadi perhatian serius seluruh perusahaan pengguna jalur tersebut.

“Pembangunan Jembatan Sei Lenggana di Jalan Jenderal Sudirman Km 21 yang saat ini sedang dilakukan pemerintah pusat, dilakukan oleh Balai Jembatan dan Jalan, jadi bukan kegiatan kabupaten. Kami dari Kabupaten Kotawaringin Timur dalam hal ini Dinas Perhubungan tetap support untuk kegiatan itu dalam rangka kelancaran arus lalu lintasnya, bersama dengan Polres Kotim dalam hal ini Satlantas Polres Kotim,” kata Raihansyah, Jumat, 8 Agustus 2025.

Ia menceritakan bahwa kejadian serupa juga pernah terjadi sebelumnya. Seperti saat awal uji coba jembatan darurat tersebut ada truk yang trouble di tengah jalan. Kejadian itu sudah menjadi bahan evaluasi bahwa jalan alternatif tersebut harus diperbaiki seiring waktu berjalan.

Raihansyah menyoroti penyebab utama ambruknya jembatan darurat tersebut akibat muatan truk yang berlebihan. Sehingga dirinya mengimbau seluruh perusahaan agar memperhatikan muatan armada mereka.

“Kami dari Dinas Perhubungan menghimbau kepada seluruh perusahaan yang mempunyai armada angkutan agar memperhatikan angkutan, terutama tonase, sehingga tidak merugikan pengguna jalan lain,” imbuhnya.

Alternatif jalur sebenarnya tersedia, tetapi dengan sejumlah pertimbangan. Jalur alternatif jalan perusahaan sawit dari Jalan Jenderal Sudirman Km 18 tembus ke Km 21. Namun pihaknya harus memperhatikan keamanan kebun sawit tersebut.

"Ini musim kemarau, siapa tahu banyak sopir-sopir yang melempar rokok, terjadi kebakaran, siapa yang bertanggung jawab? Ini juga menjadi pertimbangan kami,” jelasnya.

Jalur tersebut, kata dia, hanya akan digunakan dalam keadaan darurat. Seperti jalur ambulans dari arah Pangkalan Bun atau Sampit agar tidak terjebak antrean di jalan dan jembatan darurat. 

Menurutnya, antrean panjang bukan kejadian rutin, hanya terpantau jika jembatan dan jalan darurat mengalami kendala. "Tapi kalau hari-hari biasa jembatan itu aman, itu tidak ada antrean. Kemarin itu karena ambruk, itu terjadilah antrean panjang, ramai lah di medsosnya,” tambahnya.

Pihaknya juga telah meminta kontraktor untuk responsif terhadap kondisi lapangan. Apabila jembatan memang harus diperbaiki, yang sifatnya segera, harus segera memperbaikinya tanpa menunggu.

"Kalau insiden kemarin perbaikan ini dilakukan memakan waktu 3 jam, ditutup perbaikan, antrinya panjang. Tapi setelah itu lancar lagi,” tuturnya.

Raihansyah juga mengungkapkan bahwa jalur ini sangat vital. Bukan lagi antar-kabupaten, namun juga antar-provinsi menghubungkan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

“Mohon juga kerjasamanya para sopir, kalau memang terjadi perbaikan dan sebagainya mohon diperhatikan, rest area dulu, santai dulu di mana gitu. Dan juga muatan-muatan yang harus diperhatikan,” katanya.

Meski pengawasan tetap dilakukan, ada kendala ketika truk-truk dari luar daerah datang dengan muatan berat. “Pengawasan itu tetap kami lakukan. Hanya saja ada angkutan berat dari luar kota. Jika harus balik arah terlalu jauh. Ini yang menjadi kendala. Jadi dari awal mereka ngangkut itu kami himbau,” ucapnya.

Ia berharap semua pihak untuk ikut menjaga kondisi jalur alternatif selama proyek jembatan berlangsung. “Kami menghimbau kepada seluruh angkutan yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur yang akan melintasi jalur Sei Lenggana ini agar tetap memperhatikan jumlah angkutannya, tonasenya, sehingga tidak merugikan pengguna jalan lain. Ini jalur sementara dan sesuai dengan kontrak yang ada di jembatan itu sampai dengan awal Desember baru selesai,” tandasnya. (DEWI PATMALASARI/y)