BORNEONEWS, Palangka Raya - Industri pengolahan di Kalimantan Tengah menunjukkan performa positif pada triwulan II-2025. Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyampaikan bahwa sektor Crude Palm Oil atau CPO dan turunannya mengalami peningkatan baik secara triwulanan (q-to-q) maupun tahunan (y-on-y).
“Produksi CPO dan minyak goreng naik sebesar 8,28 persen dibandingkan triwulan sebelumnya, dan melonjak 29,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Agnes pada Selasa, 12 Agustus 2025.
Menurut Agnes, lonjakan ini mencerminkan pemulihan dan penguatan sektor industri pengolahan berbasis kelapa sawit. Ia menambahkan bahwa peningkatan produksi tidak hanya didorong oleh permintaan pasar, tetapi juga oleh efisiensi proses produksi dan perluasan lahan tanaman sawit belum menghasilkan (TBM) yang terus berlangsung.
“Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah, mengingat CPO merupakan komoditas unggulan Kalimantan Tengah,” katanya.
Namun, tidak semua sektor industri mengalami tren serupa. Agnes mengungkapkan bahwa industri kayu justru mengalami kontraksi cukup tajam.
“Produksi industri kayu turun sebesar 18,21 persen secara q-to-q dan anjlok hingga 69,14 persen secara y-on-y,” jelasnya.
Penurunan ini diperkirakan akibat melemahnya permintaan ekspor dan terbatasnya pasokan bahan baku berkualitas.
Agnes menekankan bahwa dinamika ini menunjukkan pentingnya diversifikasi industri pengolahan di Kalimantan Tengah.
“Ketergantungan pada satu jenis komoditas membuat sektor industri rentan terhadap fluktuasi pasar global. Oleh karena itu, perlu ada strategi penguatan industri berbasis sumber daya lokal lainnya,” ujarnya.
Secara keseluruhan, industri pengolahan menjadi salah satu kontributor utama pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah pada triwulan II-2025. Berdasarkan data BPS, sektor ini menyumbang pertumbuhan tertinggi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah.
“Industri pengolahan menyumbang 1,27 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah secara y-on-y,” kata Agnes.
Dengan tren positif pada industri CPO dan tantangan pada industri kayu, Agnes berharap pemerintah daerah dan pelaku usaha dapat mengambil langkah strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan.
“Kami mendorong sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam memperkuat sektor industri yang berkelanjutan dan berdaya saing,” tuturnya. (TESTI PRISCILLA/H)









