BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai ekspor luar negeri Kalimantan Tengah pada triwulan II-2025 mengalami penurunan signifikan. Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah mencatat penurunan sebesar 3,24 persen dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q), dan bahkan lebih tajam jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni turun 16,53 persen secara tahunan (y-on-y).
Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya harga beberapa komoditas ekspor utama.
“Komoditas seperti batu bara dan hasil olahan kelapa sawit mengalami penurunan harga yang cukup signifikan, sehingga berdampak langsung pada nilai ekspor daerah,” kata Agnes pada Selasa, 12 Agustus 2025.
Batu bara, yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor Kalimantan Tengah, mengalami tekanan harga di pasar global. Penurunan permintaan dari negara tujuan ekspor serta fluktuasi harga internasional menjadi faktor utama yang memengaruhi performa ekspor komoditas ini.
Sementara itu, hasil olahan kelapa sawit juga tidak luput dari tren penurunan harga. Menurut Agnes, meskipun volume ekspor sawit relatif stabil, nilai yang dihasilkan jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
“Harga jual yang turun membuat kontribusi ekspor sawit terhadap total nilai ekspor ikut menurun,” tambahnya.
Penurunan nilai ekspor ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha. Selain berdampak pada pendapatan daerah, tren ini juga berpotensi memengaruhi sektor tenaga kerja dan aktivitas ekonomi di sekitar industri ekspor.
Agnes menekankan pentingnya diversifikasi komoditas ekspor dan peningkatan nilai tambah produk lokal.
“Kami mendorong agar pelaku usaha mulai mengembangkan produk olahan yang lebih kompetitif, sehingga tidak terlalu bergantung pada komoditas mentah yang rentan terhadap fluktuasi harga global,” tuturnya. (TESTI PRISCILLA/y)









