BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Tengah, Yuliansah Andrias, mendorong percepatan pemanfaatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di seluruh ritel transaksi keuangan.
Menurutnya, penggunaan QRIS akan memberikan kemudahan bagi masyarakat sekaligus memperkuat ekosistem digital di Kalteng.
Yuliansah menjelaskan bahwa QRIS merupakan standar nasional pembayaran digital berbasis kode QR yang dapat digunakan oleh seluruh penyedia jasa sistem pembayaran. Dengan adanya satu kode QR yang terintegrasi, masyarakat dapat bertransaksi dengan lebih cepat, mudah, dan aman di berbagai ritel.
“BI berkomitmen memperluas penggunaan QRIS di semua ritel, baik skala besar maupun UMKM. Tujuannya agar masyarakat Kalimantan Tengah bisa merasakan manfaat digitalisasi transaksi yang efisien,” ujar Yuliansah, Senin, 25 Agustus 2025.
Ia menambahkan, penerapan QRIS tidak hanya menguntungkan konsumen, tetapi juga pelaku usaha. Dengan pembayaran non-tunai, para pedagang bisa mencatat transaksi secara lebih transparan, memudahkan pembukuan, sekaligus mengurangi risiko peredaran uang palsu.
Selain itu, BI Kalteng juga gencar melakukan sosialisasi literasi keuangan digital ke berbagai lapisan masyarakat. Edukasi ini penting agar masyarakat semakin terbiasa dengan pola transaksi nontunai yang aman dan mendukung inklusi keuangan.
“QRIS adalah bagian dari transformasi sistem pembayaran nasional. Kami ingin masyarakat di seluruh pelosok Kalteng bisa ikut serta, sehingga tidak ada yang tertinggal dalam era digitalisasi ini,” kata Yuliansah.
Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa digitalisasi transaksi juga mendukung program pemerintah dalam meningkatkan efisiensi perekonomian daerah. Dengan sistem pembayaran yang terintegrasi, arus perputaran uang lebih mudah terpantau sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kami berharap seluruh ritel di Kalimantan Tengah, mulai dari pasar tradisional, toko modern, hingga pelaku UMKM, segera mengadopsi QRIS. Ini adalah langkah nyata menuju ekonomi yang lebih inklusif, transparan, dan modern,” pungkasnya. (MARINI/H)









